HOREEE AKU MASUK TV

SASTRADIBACA : 1.501 KALI

Oleh: Dedeh Rohidah (*)

SAYA bersumpah bahwa nanti saya akan masuk televisi. Begitulah sumpah seorang teman ketika saya menempuh pendidikan di SPG ( sekolah pendidikan guru). Waktu itu saya hanya bisa tersenyum dan mengamini pernyataan teman saya itu. Sumpahnya lebih condong menjadi doa dan harapannya walau kedengarannya seperti bercanda.

Tak lama kemudian kami tertawa terpingkal-pingkal. Menertawakan nasib kami dengan cita-cita yang pada waktu itu bagai pungguk merindukan bulan, dianggap mimpi itu jauh dari kenyataan. Diam –diam hati saya kagum akan cita cita dan ambisi teman saya itu. Diam diam pula hati ini ikut bersumpah dengan mimpi itu.

27 tahun sudah kejadian itu telah berlalu , sekarang saya sudah menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah negeri di Kabupaten Bekasi. Saat saya dipanggil oleh salah satu pengawas. Yang menawarkan untuk bekerjasama dengan salah satu televisi swasta agar ikut serta dalam salah satu acara. Setelah mendengar persayaratan dan informasi lainnya serta mempertimbangkan berbagai hal maka saya putuskan bersedia ikut.

Saya berpikir bahwa ini merupakan peluang emas yang tidak mungkin saya lewatkan begitu saja. Kesempatan ini susah didapat. Tidak setiap hari seseorang mendapatkan kesempatan ini. Bahkan informasinya orang lain bisa menunggu berbulan-bulan agar mendapatkan kesempatan mengikuti acara di televisi. Bahkan yang harus kecewa lantaran tidak bisa tampil padahal sudah menunggu lama.

Dengan keputusan ini saya berharap dapat memberikan pengalaman berharga bagi guru dan siswa di sekolah . Dulu saya bermimpi bisa masuk tivi walau mungkin sudah tidak muat lagi di tivi ( hal ini karena badanku sudah melebar hehehe. Maksudnya kalau badan saya masuk tv 42 inch saja tidak muat.

Menurut hemat saya pengalaman di televisi merupakan pembelajaran yang konstekstual bagi siswa dan semua warga sekolah sebagai pembelajar sejati. Belajar tidak harus melulu dalam kelas massif dan guru bukanlah satu satunya sumebr belajar bagi siswa. Saya sebagai pemimpin pembelajaran memutuskan mengikuti kegiatan tersebut karena banyak hal yang menjadi pembelajaran bagi semua warga sekolah.

Tidak lama saya memberikan nomor kontak saya kepada slah satu kru tivi. Kemudian dia menghubungi saya. Beliau minta saya untuk menyiapkan 29 orang siswa sebagai peserta Quiz.. Beliau juga menanyakan apakah ada siswa yang tidak mampu atau yatim piatu yang dapat diangkat ceritanya dan sedikit unik ? Langsung saja saya jawab ada dan banyak.

Karena memang di sekolah saya ini banyak siswa yang kondisi ekonomi orang tuanya tidak mampu. Pikiran saya langsung setuju pada siswa kelas tiga. Saya pernah berbincang dengan seorang ibu yang mengtatakan bahwa dia adalah bukan  ibu dari anak diantarnya tapi neneknya. Nenek itu mengurus 2 cucu laik-laki. Ketika saya menanyakan di mana kedua orangtuanya nenek itu menjelaskan bahwa bapaknya sudah meninggal, sedangkan Ibunya menikah lagi. Namun keberadaan ibunya tidak diketahui enath di mana. Untuk menyambung hidup dan membiayai cucunya nenek itu bekerja sebagai pengupas bawang merah di pasar, sedangkan pada pagi hari dan sore hari mengumpulkan barang bekas atau pemulung. Setelah saya memberikan keterangan itu, Kru Tivi memberitahukan bahwa nanti akan datang kru ke sekolah untuk hunting atau semacam survey dan mengkonfirmasi keterangan yang diberikan.

Pada Selasa tanggal 25 Juli 2017 kru tivi memebrikan pesan melalui WA bahwa mereka akan datang pukul 09,00 , kamipun menunggu. Tepat pukul 11 .00 datang lagi pesan bahwa kru akan datang pukul 14.00. Kamipun dengan sabar  menunggu. Kira kira pukul 16.00 mereka baru datang jauh terlambat dari waktu yang telah dijanjikan, Namun kami memakluminya karena perjalanan dari Jakarta ke Bekasi sangat macet.

Setelah berbincang bincang dan memberikan arahan serta petunjuk yang diperlukan kepada kami mereka mengatakan bahwa kami belum tentu bisa tampil di acara Tivi. Tampil atau tidak tampil yang memutuskan bukan mereka. Kata mereka yang menentukan tampilnya ada tim khusus lagi yang menyeleksi layak atau tidaknya tampil di cara tersebut. Sayapun menyadari hal itu dan siap dengan kemungkinan terburuk  yaitu apabila tidak jadi tampil di televisi,

Hari semakin sore , Mereka pamit setelah meminta izin untuk mengkonfirmasi keberadaan dan kondisi siswa yang telah saya informasikan sebelumnya. Dengan diantar oleh salah satu guru mereka bergegas mengunjungi rumah siswa yang telah dipilih . Saya sendiri tidak bisa ikut mengantar mereka karena ada keperluan lain.

Segera esok harinya saya berunding dengan  guru dan membentuk panitia kerja untuk mempersiapkan tampilnya siswa siswi kami . Tentunya dilanjutkan dengan latihan –latihan agar penampilan kami bisa maksimal. Saya sangat senang dan memberikan acungan jempol kepada staf dan guru yang selalu berkolaborasi demi mencapai tujuan. Kami berjibaku berbuat maskimal agar nanti bisa tampil maksimal juga

Rabu malam saya mendapat informasi yang mengatakan bahwa kru tivi akan datang pada hari Kamis tanggal 27 Agustus 2018. Mereka menagtakan kru tivi akan datang dan langsung shooting di tempat . Namun sayang saya tidak bisa menyaksikan momen spesial ini karena hari itu saya masih berada di kampung dalam kondisi berduka, Kakak ipar saya Sang Penolong keluarga telah pergi unutk selama-lamanya. Saya hanya bisa mengkondisikan segala sesuatunya melalui telepon . Namun berkat kerjasama dan pendelgasian semuanya bisa kegiatan berjalan sesuai harapan.

Saya percaya pada rekan –rekan guru dan staf SDN Tambun 01 dapat melakukan hal ini dengan baik. Memang selama ini saya tanamkan pemahaman kepada guru-guru dan staf bahwa ketidak hadiran fisik saya di sekolah bukan berarti putusnya komunikasi dan koordinasi. Saya akui sebagai kepala sekolah saya sering  meninggalkan sekolah untuk urusan tugas lain, baik mengikuti bimtek-bimtek jadi Instruktur untuk Kurikulum 2013 ataupun mentor.

Tugas tersebut bisa langsung diberikan oleh dinas Penidikan , LPMP maupun kemedikbud. Guru- guru beserta staft sudah sangat maklum dengan kondisi saya. Termasuk saat itu semua berjalan dengan lancar Namun bukan berarti saya sebagai kepala sekolah meninggalkan sekolah seenaknya saja. Kalau tidak ada urusan kedinasan lainnya saya tetap berada di sekolah.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan bagaimana proses shooting di sekolah karena saya tidak menyaksikan langsung, Namun dari informasi yang didapat dari guru-guru bahwa mereka kru Tivi itu telah memilih siswa yang akan memwakili peserta  lainnya  untuk mengikuti quis . Dan kru tivi itu telah menshoot kegiatan keseharian dari siswa beserta nenek yang kurang mampu itu.

Sore harinya ketika saya berada di perjalanan menuju arah kembali ke Bekasi saya emndapatkan telepon dari seorang kru. Dia mengucapkan terima kasih karena mereka telah selesai mengambil apa yang mereka perlukan. Saya pun lega mendengarnya.

Hari Sabtu tanggal 28 Juli 2017 saya mendapat  berita bahwa kami akan tampil pada tanggal 1 Agustus 2017 dalam tayangan langsung . Ucapan syukur saya panjatkan. Namun ada sedikit rasa kwatir tersbersit di hati saya , karena kami meninginkan penampilan terbaik. Saya kumpulkan kembali guru dan staft untuk terus bekerjasama melatih siswa agar bisa tampil dan tidak mengecewakan. Kami memutuskan bahwa ada waktu dua hari untuk memaksimalkan usaha kami yaitu dengan berlatih setiap hari pada pukul. 15.00 WIB sampai selesai. Kami bertekad memaksimalkan waktu yang tersedia  untuk berlatih , terutama dalam permainan-permainan yang menurut prediksi kami akan dilakukan di sana.

Kami juga mendiskusikan ihwal teknik keberangkatan kami ke statsiun televisi di Jakarta. Akhirnya kami memutuskan untuk  berangkat menggunakan 4 kendaraan pribadi yang dimiliki guru. Setelah dihitung-hitung kalau menyewa bus ongkosnya lebih mahal. Berangkat dari sekolah disepakati pukul 06.00 WIB karena pukul  09.00 harus sudah berada di studio.

Selasa tanggal 01 Agustus 2017. Hari inilah hari yang dinanti nanti. Sesuai kesepakatan kami berkumpul di sekolah , siswa siswi yang beragkat diantar orang tuanya. Setelah semua berkumpul dan memanjatkan doa bersama diiringi juga doa dari orang tua siswa. Kami berangkat pukul 06.00 menuju statsiun RCTI yang berada di Kebon Jeruk Jakarta. Perjalanan ke Jakarta memang sudah biasa macet . Begitu juga hari itu. Namun kami bersyukur kami bisa sampai ke temapt tujuan pukul 08.00

Kami masih memilki waktu satu jam dari aturan yang telah diinformasikan sebelumnya. Kami beristirahat dulu di masjid yang berada di komplek statsiun RCTI. Kami dan beberapa guru memanfaatkan waktu dengan sholat dhuha dan sarapan dengan bekal yang dibawa dari rumah masing-masing. Kami juga tak ketinggalan memanfaatkan toilet untuk buang air kecil yang ditahan selama perjalanan . Kami juga memanfaatkan waktu untuk berfoto bersama di loaksi –lokasi yang memang pas untuk berswafoto . Kebetulan juga sekolah yang akan bermain dengan kami telah hadir yaitu dari SD Angkasa 09 salah satu SD sawsta yang berada di Jakarta.

Tepat pukul 09.00 kami diarahkan menuju studio untuk acara quis BaperKids yang berada di lantai delapan dari sebuah gedung yang sangat tinggi. Saya tidak sempat menghitung berapa lantai gedung tersebut.  Ternyata kami tidak langsung dibawa ke lantai delapan tapi diajak dulu ke lantai sebelas. Di sana ada ruangan persiapan dan aula untuk menyimpan tas dan barang bawaan lainnya. Di sana juga kami mendapatkan snack dan air minum secukupnya.

Setengah jam kemudian datang kru tivi  memanggil empat orang siswa yang sudah dipilih sebelumnya untuk dilatih terlebih dahulu. Mereka memasuki studio khusus untuk acara quis baperkids diadakan . Beberapa guru jub diperbolehkan masuk. Tentu kami tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Begitu masuk baru saja setengah badan yang masuk nyesss hawa yang sangat dingin terasa menyentuh tubuh. Ruangan studio tidak terlalu luas , namun kesannya menjadi cukup luas.

Di Studio itu banyak sekali peralatannya .Di sana terlihat beberapa orang kru sedang  mengerjakan pekerjaanya masing-masing. Satu hal yang menjadi pembelajaran bagi kami , ternyata dalam mensukseskan satu acara begitu banyak melibatkan orang-orang. Dalam hal ini tentunya kemampuan kolaboratif sangat diperlukan. Seperti suatu sistem mereka bekerja sesuai tugasnya masing-masing. Semua focus untuk menyukseskan satu acara. Apa saja tugas mereka ? Ah sayang sekali saya kurang faham. Dan saya juga tidak sempat bertanya satu-satu dari mereka, karena mereka juga sedang sibuk. Yang terlihat jelas dari pekerjaan mereka ada yang sebagai pelatih dan pengarah peserta quis, ada kameraman, dan banyak lagi orang-orang yang bekerja di belakang layar studio. Yang jelas saya menjadi paham bahwa dengan bekerjasama yang baik tentunya sukses dapat diraih.

Setelah latihan dirasa cukup, pengarah acara atau mungkin pemimpin acara mengumumkan bahwa kami akan beraksi 10 menit lagi. Kemudian datanglah pembawa acara yaitu Kak Dede dan Kak Rangga. Tak lama kemudian pemimpin acara mengumumkan kembali bahwa lima menit lagi acara akan dimulai. Kemudian dia menghitung mundur dan semua harus sudah siap. Karena tayangan ini disiarkan langsung maka tidak ada waktu untuk mengulang kalau ada kesalahan . Kemudian pembawa acara inti datang yaitu Kak Irfan Hakim yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta.

Kak Irfan langsung memperkenalkan peserta dari dua kelompok. Kelompok sekolah kami dipandu oleh Kak Rangga sedangkan SD Angkasa dipandu oleh Kak Dede. Ada hal lucu ketika Kak Irfan menanyakan ke kelompok SD Angkasa apakah senang  dipandu ka Dede . Serentak mereka menjawab tidaaaaak. Langsung disambut gelak tawa meriah dari seluruh peserta. Selanjutnya kami diminta meneriakkan yel-yel  ciri khas sekolah kamimasing-masing. Kamipun meneriakkan yel-yel dengan penuh semangat.

Tibalah quis utama dilaksanakan . SD kami mendapat kesempatan bermain pertama. Empat sisiwa yang mewakili  adalah Putri, Fajar, Hendra dan Shafira. Mereka memang sudah dipilih oleh kru tivi . saya kurang tahu apa dasar kru itu memilih mereka .Namundari pengamatanku mereka memang memilki wajah yang unik. Adalah Putri yang memilki  badan gemuk dan pipinya tembem lucu dan menggemaskan. Fajar yang snagat ekspresif, Hendra yang agak serius tapi kadang bengong . Bengongnya itu yang membuat lucu. Shafira yang memiliki wajah seperti orang Arab. Oh ya ada kejadian lucu juga yang dialami Fajar . Keningnya benjol gegara dia menabrak kaca waktu mau ke toilet. Dia menyangka tidak ada dinding. Kontan saja jadi bahan lelucon Kak Irfan. Ketika Fajar menjawab B pada Quis tebak animasi dan ternyata hanya dia yang salah, Kak Irfan melucu dengan mengatakan Fajar memilih B untuk Benjol sambil mengelus kening Fajar.

Permainan-demi permainan dilaksanakan dengan penuh semangat dan meriah . Diiringi teriakan –teriakan dari siswa lain dan guru –guru untuk mensuport peserta. Acara sungguh snagat meriah. Hal ini tidak lepas dari kemampuan Kak Irfan sebagai Host professional ya Kak Irfan memang mumpuni. Tidak dirasakan satu detikpun keheningan di sana. Acara mengalir dengan lancar. Semua pembawa acara saling bekerjasama menghidupkan suasana . Termasuk ketika siswa kami bersama neneknya tampil sungguh sangat mengharukan. Hampir semua menitikan air mata merasakan empati dan simpati yang sangat dalam atas penderitaan mereka. Apalagi saat siswa kami mengatakan bahwa kalau sudah besar nanti inginnmembahagiakan neneknya. Ketika ditanya apabila mendapatakan hadiah uang untuk apa , dia menjawab uangnya akan dibelikan makanan untuk neneknya. Oh iya nama siswa itu Hariyadi.

Hariyadi mendapatkan hadiah setelah dia melakukan permainan, yaitu memasukkan bola ke gawang kecil . Satu bola yang masuk ke gawang dihargai Rp. 500 ribu. Hariyadi berhasil memasukkan 3 bola. Kemudian Kak Irfan meminta teman Hariyadi bisa juga guru untuk membantu . Salah satu guru membantu dan berhasi memasukkan 4 bola jadi jumlah keseluruhan 7 bola. Hariyadi mendapatkan hadiah Rp. 3.500.000 ,- belum dipotong pajak. Kemudian SD Kamipun menjadi pemenang Quis dengan total hadiah Rp. 3.000.000,-. Sedangkan SD Angkasa 9 mendapatkan hadiah Rp. 1.000.000,-

Setelah acra berakhir kamipun berfoto-foto. Siswa siswi dari dua SD berebut minta tanda tangan dari beberapa pembawa acara. Saya sebagai coordinator dari SDN Tambun 01 dipanggil oleh salah satu Kru . Dia meminta KTP , NPWP dan rekening Bank . Katanya untuk mentransfer hadiah. Dia juga menagtakan bahwa hadiah tidak bisa langsung dibawa pulang karena harus melalui beberapa prosedur. Hadiah akan ditransfer paling lambat 45 hari kerja setelah kami menadpat surat pemberitahuan resmi dari pihak RCTI. Hariyadipun tidak  bisa membawa pulang hadiah uang, tapi Hariyadi bisa membawa sembako sebagai hadiah yang telah disiapkan karena Hariyadi mengatakan ingin mebelikan makanan untuk neneknya. Hariyadi dan neneknya juga langsung mendapat uang pengganti transfort sebesar Rp. 250.000,-

Dengan perasaan gembira dan puas kami keluar dari studio dan kembali ke lantai 11. Di sana kami mendapatkan makan siang berupa nasi kotak. Namun nasi kota yang diberikan tidak cukup karena jumlah kami melebihi jumlah yang ditetapkan. Jatahnya memang 30 dus sedangkan kami 35 orang. Akhirnya guru-guru saya ajak makan di kantin RCTI. Harga makanan dan minuman di kantin itu tidak terlalu mahal . Padahal ini Jakarta gitu lho.

Setelah makan kami melaksanakan sholat ashar karena waktu sudah hampir memasuki  waktunya sholat ashar. Kalau kami langsung pulang tanpa menunaikan dulu sholat ashar, kami perkirakan datang ke Tambun sudah sore . Apalagi masuk jam pulang kantor biasanya jalanan sangat macet. Ternyata perkiraan kami benar jalanan sangat macet sehingga kami sampai di sekolah pukul 19.00 . Kamipun langsung pulang ke rumah masing-maisng.

Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar . semoga semua warga sekolah khusunya siswa – siswi dan guru yang ikut  terkesan dan menjadikan pengalaman yang takan terlupakan seumur hidupnya. Semoga semua mendapat pengalaman berharga sehingga pembelajaranpun penuh makna. Aaaminn

 

Derah, Agustus 2017

 

(*) Penulis adalah Kepala SDN Tambun 01, Kecamatan Tambun Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU