KUE PANCONG

INSPIRASI, PENDIDIKANDIBACA : 3.193 KALI

Oleh: Syukur Sudani Hulu (*)

Abi, Kakak ingat lagu kue pancong. Kue pancong, kue-kue pancong, kue pancong, kue-kue pancong. Yuk!”,

Aira menghampiriku tiba-tiba. Setahu saya, dia sudah memejamkan matanya beberapa saat yang lalu, tidur. Dia ingat lagu itu. Padahal tadi siang, kita coba nyanyikan lagi, liriknya ada yang kurang, nadanya tidak sesuai.

Aira, adek dan bapaknya kadang buat lagu dan lirik sendiri sesuka hati, tergantung apa yang dilihat. Mau beli kue pancong bisa jadi inspirasi. Sepanjang perjalanan beli kue menyanyikan itu. Capek dengan lagu kue pancong, mereka cuba mengingat kembali alfatihah dan surat pendek lainnya yang pernah dihafal. Ini sebenarnya strategi si bapak untuk tidak selalu menjawab daftar pertanyaan suangaat panjang sang anak.

Karena setiap saat lagunya beda, kadang kita lupa lirik dan nadanya. Akhirnya tercipta lagi lagu baru hari itu. Merangsang menemukan ide setiap hari. Sama kayak hari ini, sudah cuba bongkar file memory satu hari yang lalu, tapi belum nemu juga. Pasti tercecer atau tertutup file lain. Ternyata dia yang temukan file rahasia itu ketika mau bobo. Betapa hebatnya dia mengingat itu. Dia senang banget.

Saya kutip dari tulisan Tanoto Foundation bahwa “Anak-anak usia dini mulai diperkenalkan dengan pembelajaran dan permainan yang bisa menstimulasi perkembangan otak. Ini karena  usia emas mereka, yaitu usia 0 – 8 tahun, menjadi fase krusial bagi tumbuh kembang anak di mana 80% pembentukan kecerdasan terjadi pada usia ini”.

Warni Juwita dalam penelitiannya dengan tema “Anak dan Pendidikan Anak Usia Dini dalam Cakrawala Al-Qur’an dan Hadits”, mengutip uraian Ibnu Qayyim, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, berarti ia telah berbuat kesalahan besar, mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orangtua mengabaikan mereka, tidak mengajarkannya kewajiban dan sunnah agama, menyiakan anak ketika kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari diri mereka, dan mereka pun tidak bisa memberikan manfaat kepada orangtua mereka ketika mereka dewasa. Karena itu ada sebagian anak yang menyalahkan ayahnya sendiri dengan mengatakan,  ‘Ayah, engkau telah berbuat jahat terhadapku ketika aku kecil, kini akupun balas mendurhakaimu ketika dewasa. Engkau telah menyiakanku ketika kecil, kini aku pun mengabaikanmu ketika engkau sudah tua renta'”.

Anak adalah masa depan orangtua, di tangan orangtualah anak terbantu menggapai mimpi terbaiknya. Di usai balita orangtua punya potensi mengarahkan mereka menjadi manusia bermanfaat. Maka, sekecil apa pun hal yang orangtua sampaikan akan menjadi tabungan kreatif sang anak di masa orangtua renta. Ini serius, do’a mereka turut selamatkan kita.

“Broh, hubungannya apa sama kue pancong?”.

“Kue pancong enak. Beli deh!”.

“Seplastik cuma Go Ceng”.

Bekasi, 12 Februari 2019

 

(*) Penulis adalah Manager Program Rumah Infaq Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *