CIKARANG– Memiliki kesehatan tubuh yang bugar merupakan sebuah anugerah yang besar. Hal inilah yang diungkapkan oleh Desi Putri Atmaningsih (25) salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia sehat (JKN-KIS) segmentasi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri. Desi yang kesehariannya bekerja sebagai ibu rumah tangga ini mengatakan dirinya kerap kali harus melakukan pengobatan lanatran penyakit maag yang ia derita cukup lama.
“Sekitar umur 18 tahun saya udah sering mendapatkan pengobatan untuk penyembuhan penyakit maag saya yang kambuh. Waktu dulu saya sering minum obat maag untuk menyembuhkannya tapi sekarang kurang ampuh pakai obat warung,” ujar Desi, Kamis (07/05).
Pola makan yang tidak teratur serta stres kerap menjadi faktor utama munculnya penyakit maag yang ia keluhkan. Dokter pun sering menyarankan agar dirinya dapat mengontrol makanan agar penyakitnya tidak dapat kambuh kembali.
“Dulu sebelum saya keluar dari pekerjaan, saya sering makan tidak beraturan waktunya. Terkadang juga saya makan pagi itu udah siang jam 12.00 dan kalau sudah pulang kerja, pasti rasaya mau langsung tidur karena sudah lelah. Jadi sekarang kalau terlambat sedikit pasti sakit. Ditambah karena saya makin banyak pikiran maag itu sering kambuh,” ujar salah satu mantan karyawan pabrik.
Desi menambahkan, dirinya pernah mendapatkan pengobatan intensif lantaran penyakit maagnya yang tidak kunjung membaik. Kala itu, ia langsung memeriksakan penyakitnya ke Puskesmas tempt ia terdaftar. Namun, karena dirinya harus mendapat tindakan lebih lanjut, akhirnya ia di rujuk ke rumah sakit.
“Dulu karena maag saya kambuh sampai tiga kali berobat ke klinik tapi gak sembuh, akhirnya setelah diberikan rujukan ke Rumah Sakit Karya Medika II dan setelah menjalani pemeriksaan dan pengobatan, alhamdulillah saya bisa sembuh,” tambah Desi.
Menyoroti kondisi yang terjadi saat ini, Desi mengatakan bahwa dirinya merasa tenang, karena iuran yang sebelumnya sempat naik, kini menjadi tarif yang sebelumnya. Namun, dirinya juga mengaku tidak keberatan apabila iuran tersebut mengalami penyesuaian, karena dirinya sangat terbantu dengan biaya pengobatan yang telah dijalani olehnya. Terakhir, ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk terus mendukung jalannya Program JKN-KIS dengan mendaftarkan diri menjadi peserta JKN-KIS dan rutin untuk membayar iuran tepat waktu.
“Saya sebenarnya tidak masalah apabila iuran naik, karena saya tahu biaya pengobatan sangat tidak sebanding dengan iuran yang dibayarkan. Dengan begitu, saya berharap seluruh masyarakat Indonesia terus mendukung Program JKN-KIS ini agar terus berjalan dan memberikan perlindungan kepada masyarakat, sehingga hak kesehatan masyarakat dapat terpenuhi tanpa harus khawatir akan biaya pelayanan kesehatan,” tutup Desi. (HK/rr./amh).






