CIKARANG – Sejak hadirnya jaminan kesehatan yang diselengarakan oleh Pemerintah, Program JKN-KIS selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pesertanya, mulai dari program Mobile Customer Service (MCS), pelayanan sidik jari (finger print) bagi peserta cuci darah (hemodialis), Perubahan Kelas Tidak Sulit (Praktis) hingga BPJS SATU! terus digalakan sebagai bentuk program dalam meningkatkan kepuasan pelayanan peserta.
Tidak hanya bagi para peserta JKN-KIS, pihak rumah sakit pun mendapatkan kemudahan dengan adanya salah satu program layanan seperti penggunaan sidik jari (finger print) bagi peserta cuci darah (hemodialis). Salah satu penanggung jawab (PIC) Rumah Sakit Omni Angga yang terletak di Cikarang Selatan, mengungkapkan dengan adanya pengembangan pelayanan berupa (finger print) ini, selain dapat memudahkan pasien untuk pendaftaran hemodialis, juga dapat memudahkan pihaknya untuk mendapatkan data yang lebih akurat.
“Dengan adanya finger print ini, kami rasakan sangat bagus sekali. Tidak hanya dapat mempercepat pendaftaran dan pelayanan bagi pasien, namun terutama juga dapat mencegah terjadinya kesalahan identitas (ID) pasien yang berobat. Selain itu, hal tersebut juga dapat mencegah kecurangan pemanfaatan kartu JKN-KIS bagi orang yang tidak berhak mendapatkan pelayanan hemodialis,” ujar Angga, Selasa (14/01).
Seperti yang dirinya ungkapkan ketika ditemui oleh tim Jamkesnews, bahwa di Rumah Sakit Omni tidak hanya para pasien cuci darah (hemodialis) saja yang melakukan sidik jari (finger print) dalam prosedur pengobatannya. Namun, pasien penyakit jantung dan fisioterapi juga sudah menggunakan fasilitas sidik jari (finger print) sebelum melakukan pengobatan. Bahkan penerapan sidik jari (finger print) di Poli lainnya juga sudah diterapkan.
“Awalnya finger print ini dikhususkan untuk pasien cuci darah (hemodialis), jantung, sama fisiotherapyh. Tapi sekarang sudah semua poli menggunakan finger print, agar semua data yang diterima akurat,” ungkap PIC Rumah Sakit Omni.
Salah satu peserta JKN-KIS bernama Ade Afriani (26) mengungkapkan, dengan adanya penggunaan sidik jari (finger print) membantunya untuk melakukan pengobatan cuci darah (hemodialis) tanpa perlu repot mengurus surat rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) lagi.
“Program finger print sangat memudahkan saya, apalagi disini saya hanya sendiri merantau untuk bekerja. Jadi kalau untuk ngurus-ngurus begitu repot sekali,” ungkap salah satu peserta PPU JKN-KIS.
Dengan adanya pengembangan pelayanan berupa (finger print) ini, Rumah Sakit Omni akan berupaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada semua pasien termasuk pasien pengguna JKN-KIS dalam mewujudkan jaminan kesehatan bagi masyarakat di Indonesia.(HK/rr/amh).










