Refleksi 70 Tahun Kabupaten Bekasi

ARTIKEL, OPINIDIBACA : 1.012 KALI
(Bagian (1)
OLEH: DHANY WAHAB HABIEBY (*)

 

Pada 15 Agustus 2020, Kabupaten Bekasi genap berusia 70 tahun. Sejarah terbentuknya Kabupaten Bekasi tidak bisa dipisahkan dengan jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sehingga, hari jadi Kabupaten Bekasi senantiasa kita peringati dua hari sebelum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Banyak tokoh pejuang kemerdekaan yang berasal dari tanah Bekasi, satu diantaranya adalah KH Noer Alie yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 2006. Sosok ulama pejuang yang sepatutnya menjadi teladan dan motivasi bagi para pemimpin, khususnya di Kabupaten Bekasi.

Bukti pengorbanan masyarakat Bekasi diabadikan oleh sastarawan Chairil Anwar dalam puisi yang berjudul ‘Krawang Bekasi’. Untaian kata sarat makna dalam puisi tersebut menjadi prasasti indah nama Bekasi yang dikenal seantero negeri.

Kabupaten Bekasi yang wilayahnya membentang luas dari barat Tarumajaya hingga timur Pebayuran, dari selatan Cibarusah sampai Muaragembong yang berada ditepi laut pantai utara pulau Jawa. Berdasarkan data BPS tahun 2019, jumlah penduduk Kabupaten Bekasi mencapai 3,7 juta jiwa.

Seperti umumnya wilayah lain di Jabodetabek, Kabupaten Bekasi tidak luput dari beragam permasalahan yang muncul sebagai dampak pembangunan yang terus berkembang. Peningkatan jumlah penduduk serta konsentrasi atau pemusatan kegiatan di kawasan perkotaan berpotensi mengakibatkan permasalahan yang beragam. Mulai dari pemukiman kumuh, kemacetan lalu lintas, degradasi lingkungan yang akan memengaruhi dinamika masalah sosial dan ekonomi masyarakat.

Kabupaten Bekasi menyimpan banyak potensi yang menarik minat pendatang mencari penghidupan. Secara geografis wilayah Kabupaten Bekasi terbelah oleh jalur kereta api, aliran sungai Kalimalang, jalan tol Jakarta Cikampek. Sehingga bisa dikatakan wilayah Kabupaten Bekasi terbagi dua yaitu daerah utara dan selatan. Dalam perkembangannya pembangunan di wilayah kabupaten Bekasi menyisakan kesenjangan antar wilayah.

Pembangunan di wilayah selatan relatif lebih maju karena ditopang kawasan industri dan perumahan yang dibangun oleh pihak swasta. Sementara akselerasi pembangunan di utara berjalan lambat sebab sebagaian besar wilayah merupakan lahan pertanian yang harus tetap dipelihara.

Isu ketimpangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan tak bisa dipungkiri menjadi alasan munculnya wacana pemekaran daerah otonomi baru (DOB) yang bergulir sejak beberapa tahun lalu. Keinginan tersebut hendaknya disikapi secara bijak dan rasional agar bermanfaat bagi masyarakat, bukan malah mendatangkan permasalahan baru.

Di Kabupaten Bekasi terdapat kawasan industri yang dihuni ribuan perusahaan, potensi alam yang dapat dikembangkan sebagai lahan pertanian dan destinasi wisata. Sektor jasa dan perdagangan yang tumbuh seiring dibangunnya pusat-pusat peniagaan semestinya dapat menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran.

Problematika pembangunan di Kabupaten Bekasi dapat diatasi dengan meneladani semangat para pejuang yang rela berkorban untuk meraih kemerdekaan. Ruh kepahlawanan sebagai modal ikhtiar mewujudkan tekad ‘swatantra wibawa mukti’, yakni daerah yang mengurus rumah tangganya sendiri, mempunyai pengaruh/kewibawaan, kejayaan serta kemakmuran bagi seluruh warganya.

Tujuan akhir dari semboyan tersebut adalah menciptakan Kabupaten Bekasi yang mampu memberikan kebahagiaan bagi masyarakat. Jika kita merujuk The World Happiness Report 2019 yang merupakan hasil penelitian dari Helliwell, J., Layard, R., dan Sachs, J. bersama United Nations Sustainable Development Solutions Network, maka kebahagiaan warga dipengaruhi oleh usia harapan hidup, pendapatan, dukungan sosial, hingga tingkat korupsi yang rendah. (bersambung…)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *