Lima Desa di Wilayah Cibarusah-Bojongmangu Akan Ditata dengan Karakter Sunda

PEMERINTAHANDIBACA : 169 KALI

BEKASI, Tarumanegaranews.id — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong penataan lima desa di Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, dengan mempertahankan karakter budaya Sunda dan lingkungan setempat.

Gagasan tersebut disampaikan Dedi saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bekasi dalam rangka tasyakuran Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi di Gedung DPRD Kabupaten Bekasi, Sabtu (15/8/2026).

Dedi menilai Kabupaten Bekasi memiliki karakter wilayah yang beragam, mulai dari kawasan industri, pertanian, pesisir hingga perdesaan. Karena itu, pembangunan dinilai tidak seharusnya membuat seluruh wilayah memiliki wajah yang sama.

“Rumahnya tetap, hanya ditata. Karena dia ingin menyatu dengan alam,” ujar Dedi.

Menurutnya, rumah tradisional, pertanian, kolam, sungai, pepohonan, dan ruang terbuka di kawasan Cibarusah-Bojongmangu merupakan bagian dari identitas yang perlu dipertahankan. Penataan dilakukan seperlunya tanpa menghilangkan wajah asli desa.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja mengatakan Pemkab Bekasi akan segera berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan untuk mengidentifikasi lima desa yang berpotensi masuk program tersebut.

“Tadi Pak Gubernur berbicara dengan saya. Dia ingin dibangun lima desa itu dengan karakteristik Sunda. Rumahnya enggak boleh diubah, rumahnya tetap, cuma nanti ditata,” kata Asep.

Asep menegaskan, pembangunan kawasan tersebut harus tetap menjaga suasana asri. Penataan juga akan berjalan beriringan dengan pembangunan jalan provinsi menuju kawasan perbatasan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor.

Dengan akses yang semakin baik, kawasan desa diharapkan mampu berkembang secara ekonomi tanpa kehilangan karakter budaya dan lingkungannya.

Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Ade Syukron menilai penguatan identitas daerah juga penting agar Kabupaten Bekasi tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri.

“Kita butuh identitas. Mana sih ikon kita? Ikon itu yang menjadi cerminan,” ujarnya.

Penataan desa berbasis budaya dan lingkungan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menghadirkan wajah baru Kabupaten Bekasi: daerah yang tetap berkembang secara ekonomi, tetapi tidak kehilangan budaya, lingkungan, dan karakter masyarakatnya. (red)

Reporter : Manah/Agus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *