Oleh: Siska Nur Fadillah (*)
Karakter atau pendidikan pengembangan karakter dan penguatan pendidikan karakter cukup mengemuka di dunia pendidikan saat ini. Karakter berkaitan erat dengan sikap, yang harus dimiliki atau melekat pada suatu bangsa, bahkan dapat menjadi penanda serta jati diri bangsa.
Menurut Kemendikbud RI, bangsa besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat, berdampingan dengan kompetensi yang tinggi, yang tumbuh dan berkembang dari pendidikan yang menyenangkan serta lingkungan yang menerapkan nilai-nilai baik dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hanya dengan karakter yang kuat dan kompetensi yang tinggi, jati diri bangsa menjadi kukuh, mampu berkolaborasi, dan memiliki daya saing sehingga mampu menjawab berbagai tantangan.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelec), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.
Dalam UU No: 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) bahwa, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Di dalam institusi yang menjalankan pendidikan atau pengembangan karakter, yakni sekolah, pendidik dan lembaga pendidikan memiliki peranan atau pengaruh besar terhadap proses tumbuh kembangnya karakter peserta didik.
Dan pendidik merupakan salah satu pembentuk karakter peserta didik, sedangkan sekolah atau pendidikan tinggi merupakan laboratorium karakter yang dapat membuat suasana pembelajaran untuk membentuk karakter yang diinginkan.
Karakter yang dimaksud adalah seperti yang diisyaratkan dalam tujuan pendidikan nasional dengan menempatkan pembentukan manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
Menurut Tatang Sumarsono, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki tata krama sendiri- sendiri sesuai dengan tradisi dan nilai moral yang dianutnya. Sebagai contoh, orang Sunda memliki tata krama yang antara lain mengatur gerak anggota badan dan aturan dalam berucap atau bertutur serta bahasa yang digunakan. (Sumarsono, 2013).
Dan yang paling utama dalam pembentukan karakter adalah orang tua . Mereka menjadi orang yang paling bertanggungjawab atas perkembangan karakter anak. Hal itu karena keluarga merupakan penyelenggara pendidikan paling utama dan pertama sebelum pendidikan pendamping lainnya. Orang tua juga turut berperan dalam perkembangan karakter anak di sekolah.
Ada beberapa kegiatan yang bisa orang tua lakukan seperti, memantau perkembangan perilaku anak mereka melalui buku kegiatan siswa yang sudah disiapkan pihak sekolah, aktif mengikuti kegiatan rutin atau bergilir yang dilaksanakan pihak sekolah dalam pertemuan-pertemuan antara orang tua dengan wali kelas dan guru-guru kelas.
Di era digital saat ini anak-anak usia sekolah dasar tidak bisa lepas dari gawai atau gadget bahkan menjadi sebuah kebutuhan. Gawai bagi mereka adalah teman setia. Kondisi seperti itu, orang tua perlu memperkenalkan kepada anak-anak mengenai situs pendidikan bila menggunakan gadget, seperti video-video animasi yang mengedukasi, sehingga anak tidak mudah bosan, atau games pendidikan yang mengasah kemampuan kognitif, video tata cara sholat dan program-program belajar lainnya yang penting untuk diingat.
Orang tua juga berperan mengawasi dan membatasi anak-anak dalam menggunakan ponsel, atur waktu kapan ia harus mengerjakan tugas sekolahnya, bersosialisasi dengan teman, bersosialisasi tengan keluarga, dan menggunakan ponsel atau gadget.
Maka bangsa yang berkarakter yang diharapkan adalah mereka yang ditempa dari keluarga sebagai penyelenggara pendidikan pertama dan utama sebelum penyelenggara pendidikan lainya. Dan peran orang tua sangat vital sebagai pembentuk karakter. (*)
(*) Mahasiswa Universitas Pelita Bangsa)






