AMBIL RESIKO

INSPIRASI, PENDIDIKANDIBACA : 2.282 KALI

Oleh: Syukur Sudani Hulu, SE (*)

“Saya teringat sama keponakan saya saja. Teringat keponakan saya. Sempat dia melawan sama saya,” ujar Jaka.

 

PEMUDA yang punya kegiatan sehari-hari sebagai pedagang batagor itu sedang pulang dari berjualan saat itu. Tepat jam 17.30 Wib. Dia dapatin orang banyak sedang berkerumun di pinggir jembatan. Mungkin karena penasaran dia juga mendekat. Sehingga dia lah pahlawannya sore  itu.

Namanya Jaka Satria, pemuda 18 tahun inilah sang penyelamat Alex (49) yang hendak bunuh diri bersama dua anaknya (2 tahun dan 3 bulan) di Pematang Siantar, Sumut. Dialah yang berani turun ke tepi jembatan itu untuk ambil tindakan sangat cepat. Selekas mungkin dia sudah berada tepat di belakang Alex, dia dekap badannya dan dia dorong ke pinggir. Di saat semua orang hanya mampu teriak, dia ambil resiko itu. Padahal bisa saja kalau tidak hati-hati dia ikut jatuh ke dasar jembatan yang curam.

“Saya di situ gak ada istilah pelan-pelan. Sudah ramai tapi tak ada yang berani turun menyelamatkan. Hanya saya yang turun. Saya spontan langsung turun,” tambahnya.

Perlu cara radikal memang untuk menyelamatkan atau menghindarkan seseorang dari berbuat kerusakan. Yang bisa berakibat fatal ke diri sendiri, atau berhubungan dengan apa saja yang bisa diperbuat dan biasanya tersedia di sekitarnya. Perlu keberanian.

Dan yang penting kemudian adalah orang yang mampu lakukan itu hanya orang yang punya hubungan emosional, salah satunya keluarga. Maka, jika yang berbuat demikian itu bukan teman sedarah berarti orang itu punya kepedulian yang sangat tinggi. Minimal dia membayangkan dan merasakan penderitaan itu tertimpa kepadanya juga. Dia care tanpa pamrih.

Teringat beberapa saat yang lalu, saat itu teman satu kantor tetiba begitu panik, muka pucat sambil berbicara melalui sambungan HP. Begitu terburu-buru. Disapa dan ditanya pun dia tak gubris. Sangat angkuh. Padahal biasanya tidak. Selidik, ternyata samar terdengar bahwa seseorang memberikan informasi bahwa saudaranya kena ditilang. Sang penegak hukum minta ditebus dengan uang sekian.

Dia geber motor menuju ATM. Seorang teman inisiatif untuk menyadarkannya. Dia rebut HP darinya. Seketika berubah. Aliran darah seakan kembali lancar. Saat ditanya apa yang terjadi, dia tersenyum. Baru sadar apa hal bodoh yang hampir merugikannya. Dia terselamatkan dari penipuan.

Kejadian ini terpaksa saya ulang di memori ketika lihat video viral sang remaja Indonesia yang berani membanting kendaraan roda dua di depan orang banyak yang hanya bisa punya kamera untuk memvideokannya. Saya berharap pas kejadian hari itu bang Jaka Satria lewat atau teman kantor saya yang baik hati itu datang menahannya untuk tak berbuat kerusakan. Dia ditahan. Dipegang tangannya sambil di bisikkan perlu banyak  istighfar saat itu, yang menganggap dia sebagai bagian dari saudaranya. Saya yakin, gak bakal masuk penjara.

Berterima kasihlah kepada orang yang siap ambil resiko terhadap mu. Anggap dia orang terbaik saat itu. Jangan lupakan kebaikannya. Niatkan, perbuatan baiknya akan  menjadi pelecut kamu untuk berbuat baik juga.

Bekasi, 11 Februari 2019

(*) Penulis adalah Manager Program Rumah Infaq Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *