Gemuruh tepuk tangan hadirin terdengar riuh rendah melihat sejumlah anak usia SD tampil mengesankan saat membaca kitab berberbahasa Arab tanpa harokat atau gundul dan menjawab berbagai pertanyaan yang diujikan
ABU MUHAMMAD HASANIAN -Cibitung
Meski cuaca sangat terik ratusan hadirin tak beringsut dari tempat duduknya. Mereka terlihat bersemangat melihat penampilan wisudawan dan wisudawati yang tengah diuji. Sesekali terdengar tepuk tangan tanda rasa kagum. Satu persatu peserta tampil mempersentasekan bacaannya serta dewan penguji begitu ketat dengan pertanyaan seolah peserta tak diberikan kesempatan untuk menarik nafas.
Wisuda hari itu makin berkesan lantaran diujikan langsung dihadapan pakar Bahasa dan Sastra Arab. Para pakar yang hadir adalah DR Rohimuddin MA serta DR Afrah Abidah Ismail MA. Keduanya adalah Doktor lulusan Universitas Al Azhar, Kairo.
Bahkan DR Rohimuddin sempat melemparkan sejumlah pertanyaan kepada santri yang membuat dirinya kagum. Terlebih program yang diujikan adalah program instan dengan metode yang terbilang baru yang oleh penyusunnya KH Abdullah Nawawi yang juga pengasuh Ponpes An-Aawawi Al –Islamy disebut metode tatbiq dalam disiplin ilmu Nahwu dan Shorf atau tata Bahasa Arab.
“Program atau metode tathbiq (penerapan baca) ini telah kita uji cobakan atau persentasekan kepada segala umur baik anak-anak maupun orang tua dan ternyata mereka bisa cepat membaca kita gundul yang dikalangan pesantren dianggap sulit,”ujarnya.
Menurutnya dengan bekal bisa baca tulis quran (BTQ) siapa pun bisa belajar membaca Kitab Kuning atau tulisan arab tanpa baris (gundul). Meski begitu ia tetap menerapkan hapalan kepada pemula untuk memudahkan mempelajari metode yang ia diajarkan.
“Ada sejumlah rumusan serta bait nazhom (syair) yang harus dihapal untuk memudahkan belajar metode ini. Asal tekun dan pertemuannya intensif insya Allah tujuh bulan sudah bisa membaca kitab gundul,”jelas ayah tiga orang anak ini.
Ia mengaku sudah lama menyusun metode tersebut. Hal itu lantaran dorongan penasehat sekaligus Syaikhul Mahad Ponpes An-Nawawi Al-Islamy, DR Rohimuddin Nawawi yang menginginkan sebuah metode yang cepat untuk bisa membaca Kitab Kuning.
“Penyusunan ini juga terinspirasi dari metode Amsilati yang diterapkan di Ponpes Darul Falah, Jepara oleh KH Lukmanul Hakim lalu saya pelajari. Setelah ditambah dikurang dan ujicobakan metode tatbiq ini lebih ringkas dan lebih mudah dipahami, meski masih ada sejumlah kekurangan, ”tambah kiai yang akrab dipanggil Aboo Khanza ini.
Rencannya ia akan mencetak secara massal Kitab Nahwu dan Shorf Metode Tathbiqi terebut. Bahkan ia mengaku sudah banyak pihak yang meminta untuk mengajarkan metode tersebut baik dikalangan pondok pesantren maupun dikalangan pendidikan formal seperti MI, MTs, Aliyah dan STAI.
“Ini adalah wisuda pertama dan saya belom bisa menyebarluaskan sebelum ada hasilnya dan alhamdulilah hari ini bisa ditampilkan dan mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat,”terang Kiai jebolan Pesantren Sarang, Rembang ini.
Sementara itu DR Rohimuddin Nawawi mengatakan untuk memahami khazanah keilmuan Islam harus diambil dari sumber yang otentik yang diajarkan atau diturunkan oleh ulama secara turun temurun melalui kajian kitab klasik dari zaman ke zaman secara terus menerus dan tidak terputus.
Namun tantangan zaman mengharuskan para alim ulama mengubah metoda dan menyesuaikan dengan kondisi zaman untuk memahami kitab klasik tersebut. Salah satunya dalam disiplin ilmu Nahwu dan Shorof yang dianggap susah dan rumit. Bahkan santri harus bertahun tahun untuk bisa membaca kitab kuning atau klasik tersebut.
“Metode tathbiq atau penerapan baca langsung ini sebenarnya dari dulu sudah ada namun hanya ditampilkan setahun sekali atau sesekali saja. Tapi sekarang dijadikan metode umum, baku dan dasar. Ini sangat membantu bagi yang ingin belajar Bahasa Arab terutama membaca kitab klasik,”ujar Kiai yang aktif mengajar di sejumlah Negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Pattani Thailand dan Brunai ini.
Menurutnya metode tatbiq ini tidak monoton dan santri tidak dipusingkan dengan hapalan-hapalan banyak. Selain praktis metode ini bisa diajarkan dengan kursus tidak harus bertahun-tahun santri baru bisa membaca kitab klasik.
“Seiring kemajuan zaman, era teknologi dan informasi yang cepat dan jarang ada santri yang mau mondok hingga bertahun tahun. Maka dibutuhkan sebuah metode dasar atau asasi yang cepat dan praktis yang menjadi ciri utama untuk menjawab perkembangan zaman yang juga serba cepat. Maka metode ini sangat dibutuhkan,”terang syaikh pengajar tetap di Masjid Agung Banten dan Cipta Rasa Cirebon yang sudah menelurkan berbagai karya terutama dan kajian Tasawuf ini. (*)





