Aplikasi Hasil Kombinasi Teknologi, Ilmu Bahasa, dan Psikologi

FEATUREDIBACA : 926 KALI

Speaktograph mengubah audio menjadi teks, lalu mengelompokkannya ke dalam empat kategori. Berawal dari kegelisahan atas maraknya debat kusir antar pendukung paslon tanpa tolok ukur yang jelas.

 

AHMAD DIDIN KHOIRUDDIN, Surabaya

“Jokowi itu sosok yang begini.”

“Prabowo itu karakternya begitu.”

BAGI Abdullah Aufa Fuad, debat kusir seperti contoh di atas sudah demikian menggelisahkan. Di media sosial, sehari-hari, pendukung kedua calon presiden hanya bermodal ngeyel. Melakukan klaim tanpa tolok ukur yang jelas.

Kegelisahan itulah yang kemudian mendorong Fuad merancang Speaktograph. Sederhananya, Speaktograph adalah aplikasi untuk menganalisis dan mengubah bentuk audio menjadi teks yang bisa dikelompokkan.

“Ngomong terus keluar tulisan,” kata pemuda asal Sidoarjo, Jawa Timur, itu kepada Jawa Pos di Surabaya pada Kamis lalu (14/2).

Fuad, alumnus magister nano science di University of Lyon, Prancis, butuh waktu selama 2,5 bulan untuk membuat aplikasi tersebut. Dan, malam ini, bekerja sama dengan Jawa Pos, Speaktograph akan digunakan untuk menganalisis debat pilpres jilid kedua. Antara Joko Widodo (capres 01) dan Prabowo Subianto (capres 02).

Secara lebih terperinci, hasil yang dapat ditampilkan ada empat kategori. Pertama, konten yang berisi total kata diucapkan, kata unik, dan frekuensi jeda serta ambil napas.

Kedua, frekuensi kata yang berisi banyaknya pengulangan kata. Ketiga, pola kalimat, yakni untuk memetakan pola kata penyusun dari kalimat yang diucapkan. Terakhir adalah karakter berisi nilai untuk kepercayaan diri, keaktifan bicara, optimisme, dan frekuensi penyebutan data atau angka.

Jadi, setelah audio diubah jadi teks, apa langkah selanjutnya dari aplikasi ini? Di situlah letak perbedaan antara Speaktograph dan Google Voice. “Kata yang keluar dari si pengucap bisa dihitung, berapa kali keluar kata ‘saya’, ‘menang’, atau apa pun itu dalam satu sesi debat. Dari sanalah kita tahu apa yang ditekankan si pembicara lewat perkataannya,” jelas Fuad yang ditemui bersama dua sahabat yang ikut mengembangkan Speaktograph, Kalimah Wasis Lestari dan Afifudin Maarif.

Hasilnya pun dapat di-ranking. Agar lebih menarik dan mudah dipahami, ditampilkan dalam bentuk grafis lingkaran. Makin besar ukurannya, itu berarti intensitas kata di dalam lingkaran tersebut semakin sering terucap.

Selain itu, hasil yang juga dapat dimunculkan adalah seberapa besar tingkat optimisme atau pesimisme yang terkandung dalam suatu kalimat. Untuk fitur tersebut, mereka menggandeng seorang psikolog untuk mengelompokkan kata-kata itu.

“Ini semua sudah kami uji keakuratannya. Jika saya coba ngomong saya malas, saya tidak bisa, skor optimismenya hanya 1 dari 5 poin,” kata Fuad.

Sebaliknya, lanjut putra pertama pasangan Fuad Anwar dan Aini Suryati tersebut, jika bicara “saya menang, saya percaya diri”, hasilnya sempurna, 5. Fuad menambahkan, hampir semua kosakata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah dimasukkan ke program.

Namun, ada sedikit kata-kata yang bakal tidak terdeteksi: bahasa gaul seperti yang banyak dipakai anak-anak zaman now. “Mungkin ke depan kita tambahkan, kayak selow itu artinya santai dan bahasa gaul lain,” imbuhnya.

Lalu, bagaimana dengan bahasa asing yang terkadang diucapkan saat debat? Mereka sudah mengantisipasinya. Beberapa kosakata bahasa Inggris yang familier sudah diinput.

Supaya lebih presisi, aplikasi itu juga dapat menerjemahkan beberapa singkatan yang sudah luas dikenal. Misalnya, KPU (Komisi Pemilihan Umum), tulisan yang muncul bukan lagi ka-pe-u. Juga, pengucapan nominal sudah dapat muncul dalam angka. “Setelah beberapa kali uji coba, kami pastikan tingkat keakuratannya bisa mencapai 96 persen,” tegasnya.

Aplikasi itu dapat dipakai secara real time. Mereka tinggal merekam debat dalam satu sesi. Kemudian, akan dikelompokkan menurut tokoh yang berbicara. Namun, itu belum bisa dilakukan secara otomatis.

Mereka harus memisah secara manual, pada menit berapa tokoh A atau tokoh B berbicara. Selain itu, agar perkataan moderator juga tidak ikut teranalisis.

Namun, itu tidaklah rumit. Begitu perekaman suara berjalan, tinggal ditunggu saja hingga hasilnya keluar. Tak lama, data berupa grafis dan rating bintang bisa tersaji dalam tiap sesi debat tersebut.

Dengan kemudahan yang ditawarkan, Fuad bersama dua rekannya hanya akan melayani permintaan dari lembaga tertentu. Contohnya, lembaga riset, partai politik, media, atau pihak yang berkepentingan lainnya. “Tapi, tetap hasil basic-nya akan kami open access untuk masyarakat umum,” terangnya.

Kemampuan analisis data program tersebut adalah karya Kalimah Wasis Lestari. Perempuan yang telah bekerja selama dua tahun di perusahaan riset itulah yang dipercaya untuk mengutak-atik isi aplikasi tersebut.

Bagi dia, menganalisis data dari debat presiden masih dianggap dalam lingkup kecil. Sebab, tujuan utama program itu bukan hanya untuk debat. Melainkan untuk seluruh media sosial.

“Dari YouTube, Twitter, Instagram, atau yang lain. Kita bisa lihat kecenderungan yang lagi ngetren itu apa sih,” ujar lulusan S-1 ilmu politik Unair tersebut.

Ke depan mereka membangun program itu agar bisa merekam apa yang dibahas netizen dalam media sosial. Mengetahui isu yang berkembang. Produk-produk yang lagi hit. Kemudian, direkomendasikan ke publik. Agar tidak ada lagi yang dianggap ketinggalan zaman.

Jika sudah demikian, di situlah peran Afifudin Maarif sebagai web developer. Pemuda 22 tahun tersebut bertugas membagikan hasil analisis mereka ke publik. Tentu dalam tampilan yang mudah dimengerti. Mulai infografis, narasi, hingga bentuk video yang bakal menjelaskan secara detail.

“Kalau di awal ini saya bantuin Mas Fuad dalam input data,” ujar alumnus Institut Universitaire de Technologie d’Alençon, Prancis, tersebut.

Dengan adanya aplikasi itu, mereka berharap tidak ada lagi debat kusir. Kalau mau menikmati debat, harus ada dasar saat berpendapat. Bukan lagi karena alasan suka atau tidak suka.

“Tidak ada lagi yang berseteru akibat membela salah satu paslon. Jangan ada lagi debat kusir, biarkan Pak Kusir bekerja dengan kereta kudanya, hehehe,” gurau Fuad. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *