Cinta di Ujung Stasiun Cibitung

PENDIDIKAN, SASTRADIBACA : 3.643 KALI

(Bagian 1)

Oleh: SS.Hulu

“Birul…! jangan lupa sarapan dulu sayang. Ada singkong rebus tuh di meja dan teh manisnya jangan lupa diminum, masih hangat biar tidak masuk angin”.

“Iya Bu,” kata Birul.

Dia duduk menghadap meja makan itu. Di meja ini dia sering menjadi tempat spesial Birul dan keluarga setiap harinya. Apalagi ketika waktu makan malam. Setelah semua selesai menunaikan sholat Isya. Dia santap isi meja itu pagi ini. Dia patut bersyukur masih ada yang dimakan buat sarapan.

Nama lengkapnya Birul Ihsan. Anak pertama dari lima bersaudara. Sekarang sedang kuliah di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Di Depok tepatnya. Namanya Universitas Indonesia. Owh iya, usianya masih 20 tahun.

Pagi ini dia buru-buru berangkat ke Kampus. Setiap harinya dia memang naik KRL. Apalagi setelah stasiun Cibitung sudah beroperasi dia makin semangat berangkat ke Kampus. Baru pagi ini memang dia naik dari stasiun ini, biasanya dia naik di stasiun Bekasi. Setelah naik motor dari rumah. Motor dia titip di penitipan di dekat stasiun.

Karena dia naik dari Stasiun ini lah, dia harus berangkat lebih pagi. Karena nunggu KRL di stasiun Cibitung harus 1 jam. Itu info yang dia dapat dari tetangganya.

Setelah perlengkapan kuliahnya sudah masuk tas. Tak lupa kartu KRL nya dia masukin ke saku jaket merah sebelah kanan yang dia kenakan hari ini.

“Bu, Birul berangkat yah…”.

“Assalamu ‘alaikum”.

“Iya Nak. Hati-hati”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah”, jawab Bu Noor, ibunya Birul.

Motor matic warna putih yang sudah stand by di pojok rumah dia dorong keluar. Setelah dipanasin sebentar, dia pun berlalu.

 

Sesampainya di stasiun, tampak sangat ramai. Manusia berjubel. Sebagian sedang menaiki tangga stasiun, sebagian lain turun melaui lift yang tersedia. terdengar pengumuman dari pengeras suara,

“KRL tujuan Jakarta saat ini sudah berangkat dari stasiun Cikarang”.

Bergegas dia menuju stasiun. Dia lompatin anak tangga stasiun itu. Sambil lari-lari kecil. “Sekali kamu telat, kamu musti nunggu satu jam lagi buat naik KRL”, begitu kata Mpok Ani tukang sayur tepat depan rumahnya.

Dia gak mau hanya gara-gara telat naik, perjuangan dia pagi ini sia-sia dan acara di kampusnya tak bisa dia ikuti. Padahal itu sangat penting baginya.

Antrian sudah sangat panjang tapi tertib. Tak ada yang motong antrian. Rapi sekali. Samar terlihat KRL mendekat.

Tiba, gilirannya untuk tap in masuk. Dia raba saku jaketnya, kosong. Dia baru ngeh, dia lupa tutup retsleting jaketnya. Pasti terjatuh. Aduh, gimana ini, Dia panik. Haruskah dia beli kartu baru. Tapi itu pasti buat dia telat naik, batinnya.

“Pake punya saya Bang. Saya punya dua, pake saja”, suara lembut itu menerpa telinganya.

Seseorang dari belakang antriannya menyodorkan kartu baru. Dia tak sanggup menolak. Dia segera tap in dan masuk. Segera saja dia berlari dan akhirnya bisa naik KRL sebelum 5 detik setelahnya ditutup. Alhamdulillah..

Setelah tas gendongnya dia naikkan ke tempat barang di atas. Dia baru sadar, jangan kan tahu namanya, ucapan terima kasih saja belum terucap ke orang yang baik hati tadi.

“Astaghfirullah..”, ucapnya.

 

Yang dia ingat, lengan baju warna pink dan seluruh kuki jarinya pakai hena. Pasti dia perempuan.

“Tapi, bagaimana caranya untuk kembalikan kartu ini”.

“Ahh……, pasti ada cara”, ujarnya.

 

(Bersambung)..

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *