Oleh : Karman Kamaludin Are (*)
PERTANYAAN di atas pernah dilontarkan oleh seorang sastrawan muda pada tahun 2008 lewat sebuah makalah, beliau adalah Ahmad Suyudi Omar. Penulis tertarik untuk mengadopsi dan membicarakannya kembali untuk berbagi pengetahuan, terutama bagi para pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Pertanyaan tersebut dapat dijawab ‘ya; maupun ‘tidak’. Sebelum diterapkannya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), para pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia tidak dapat berharap banyak terhadap keberhasilan pengajaran kesusastraan. Pengajaran sastra di sekolah mulai dirasakan tidak sehat. Struktur kurikulum kita hanya menitipkan pengajaran sastra pada bidang studi Bahasa Indonesia.
Hal ini menyebabkan sempitnya alokasi waktu untuk menyampaikan materi, terutama bila harus membawa siswa kepada tahapan apresiasi terhadap karya sastra. Kini, dengan diluncurkan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) oleh Mendikbud pada tanggal 19 Agustus 2015, dan dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti telah memberi ruang bagi pengajaran apresiasi sastra. Ruang lingkup bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan bersastra yang menurut standar isi (Permendiknas No. 22 tahun 2006) meliputi aspek mendengarkan, berbiacara, membaca, dan menulis.
Masalah minimnya buku teks yang berkualitas, intervensi penerbit buku, sampai kepada masalah bahan evaluasi sastra yang terpaksa harus memarjinalkan orientasi kepada apresiasi karya sastra karena sistem tes yang diberlakukan selama itu tidak menghindar dari pembodohan peserta didik. Evaluasi pengajaran sastra hanya menjadi epigon dengan sistem tes yang tebak-tebakan spekulatif belaka. Ditambah pula dengan sajian materi yang teori minded telah memisahkan siswa dengan sastra itu sendiri.
Cara-cara seperti itulah yang pada akhirnya telah mematikan pengajaran apresiasi sastra di sekolah. Siswa tidak pernah diajak menyelam, menyatu, melebur, menghayati, dan memahami, bahkan mampu menciptakan karya. Siswa hanya dituntut menghafal hafalan hafalan kering, seperti: nama penyair atau pujangga, sastrawan, judul karangan, dan sebagainya.
Kendati hal tersebut, perlu juga diketahui sebagai unsur eksternal dalam penghayatan dan pemahaman karya sastra, namun hal yang esensial dari pengajaran apresiasi karya sastra telah dikesampingkan. Hal ini berpengaruh terhadap kemampuan menulis siswa, ketika ditugaskan membuat karangan fiksi, siswa selalu terjebak pada kata “Pada suatu hari”.
GLS DAN SASTRA
GLS (Gerakan Literasi Sekolah) memberi peluang untuk membantu pengajar menumbuhkan minat siswa terhadap karya sastra, yaitu dengan menganjurkan siswa untuk banyak membaca buku-buku karya sastra baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hal tersebut diharapkan dapat merangsang siswa untuk kian memahami tentang apresiasi karya sastra, sehingga pada akhirnya dapat memunculkan ide-ide kreatif dalam menulis sebuah karangan fiksi pada siswa.
Dalam proses pembelajaran apresiasi sastra, bukan hanya guru saja yang masuk ke dalamya tetapi siswa juga harus ikut masuk kedalamnya. Hadirnya GLS (Gerakan Literasi Sekolah) memudahkan pengajar dalam proses pembelajaran apresiasi sastra di sekolah. Secara tidak disadari siswa telah masuk ke dalam apresiasi sastra yaitu dengan membaca buku karya-karya sastra.
Pengajaran sastra tidak perlu terus-menerus terpaku pada materi sastra yang itu-itu saja. Jangan hanya berhenti pada karya-karya sastra yang telah ter-‘kitab’-kan menjadi bahan baku mata pelajaran sastra. Karya-karya sastra terus bermunculan dan lahir pengarang dari generasi ke generasi. Sebagai contoh novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi adalah karya sastra di era kini yang mampu menyedot perhatian publik dan “booming”, artinya generasi kini masih menyukai karya-karya sastra.
Ratusan penyair baru, sastrawan muda, pengarang remaja, para penggerak seni budaya teater terus hidup dan tumbuh bertebaran di seluruh pelosok tanah air. Mereka belum tercatat di dalam babakan-babakan sastra, namun kemampuan kreativitas dan karya-karya mereka baik berupa cerpen, puisi, novel, maupun karya-karya drama telah diakui dan memberi warna kepada pelangi budaya negeri ini.
Masalah sempitnya alokasi waktu bagi pengajaran sastra pun tidak perlu dirisaukan. bukankah pengajaran membuka peluang bagi kita untuk kreatif? Guru sastra mesti inovatif, kita tidak boleh alergi dan selalu ragu-ragu menggunakan terobosan-terobosan yang baru dan segar.
Misalnya, membawa mereka keluar dari ruangan kelas yang selalu diselimuti oleh atmosfer pembelajaran yang kaku dan tidak fleksibel, menuju taman, atau halaman sekolah yang teduh dan leluasa. Biarkan mereka mengekspresikan bagaimana membaca sebuah cerpen atau puisi dengan bebas tanpa terganggu konsentrasinya. Dengan metode seperti ini barangkali mereka akan lebih masuk ke dalam suasana dan mood untuk proses pembelajaran sastra.
Belajar sastra dapat dilaksanakan dalam suasana riang dan ringan, serta penuh kebebasan berekspresi, tidak harus membuat dahi berkerut dan berkeringat serta seserius belajar eksakta. Inilah sebetulnya hal yang esensi dari pengajaran sastra. Kalau siswa sudah mulai tertarik, senang, dan gembira, mudah bagi kita membawa masuk lebih dalam kepada proses pembelajaran.
Kalau yang menjadi masalah adalah kekurangmampuan para pengajar dalam mengapresiasi karya sastra sehingga minder untuk memberi contoh dan membawa siswa kepada proses pembelajaran, mengapa kita tidak gunakan mediator? Kita dapat menghadirkan sastrawan, penyair, pengarang, untuk berinteraksi dan melakukan proses pembelajaran sastra. Mereka dapat bercerita bagaimana pengalamannya menjadi pengarang, penulis, penyair, atau mengisahkan bagaimana proses kreatif terjadi sehingga muncul karya sastra seperti yang diciptakannya.
Kita dapat saling menjalin kerjasama dengan kantong-kantong kebudayaan, komunitas seni budaya, pengarang, dan kelompok-kelompok teater serta dewan kesenian di daerah. Mereka biasanya memiliki SDM yang baik dan mampu mengomunikasikan karya sastra untuk kita ajak bekerjasama menyampaikan apresiasi sastra.
Sistem kompetisi atau lomba kreativitas sastra barangkali juga perlu diterapkan. Penyelenggaraan sayembara atau lomba-lomba baca puisi, menulis kreatif seperti: cerpen, puisi, cerita bersambung, atau menulis artikel, esai, synopsis, resensi buku, resensi film, sinetron, dsb antar siswa sehingga mampu merangsang dan memberi motivasi kepada siswa untuk menggemari sastra. Ciptakan ajang sayembara menulis tingkat sekolah, tingkat gugus, bahkan tingkat kabupaten/kota. Kini dengan berkembangnya internet tentu media untuk melaksanakan kompetisi ini lebih terbuka lebar, kita dapat memanfaatkan situs-situs yang gratis maupun terdaftar semisal blog atau jejaring sosial untuk media pembelajaran apresiasi sastra. Berikan penghargaan kepada yang terbaik, misalnya dengan memuatnya di majalah dan situs-situs sekolah, atau member hadiah sehingga mampu mendorong semangat kreativitas siswa.
KENDALA LAIN APRESIASI SASTRA
Telah dikatakan sebelumnya bahwa dalam konteks apresiasi terhadap karya sastra, pengajar dan peserta didik bolehlah sama-sama masuk menjadi apresiator. Kini, faktor-faktor penyebab bagi sulitnya pengajaran apresiasi sastra di sekolah ternyata tidak hanya terletak pada masalah-masalah seperti disebutkan di atas. Rendahnya budaya baca menjadi biang keroknya. Budaya baca selalu sulit untuk ditumbuhkembangkan kepada anak-anak.
Minat baca para siswa kita memang sangat rendah. Barangkali hal ini juga sangat terkait dengan budaya menonton yang belakangan, sejak dua dekade ini, lebih berkembang. Begitu mudahnya anak-anak menonton tayangan televisi dengan program acara yang sangat variatif serta membuat keranjingan. Bayangkan oleh kita, seorang anak yang baru saja terjaga dari tidurnya, pagi-pagi dengan mata (maaf) belekan dan belum sempat melakukan pekerjaan apa pun ke depan hidungnya sudah disodorkan sajian gratis siaran televisi.
Pengaruh kuat dari keranjingan seorang anak terhadap tayangan televisi konon juga membuat berkurangnya daya konsentrasi dan minat terhadap pekerjaan lain, termasuk di dalamnya membaca. Membaca karya sastra sebetulnya akan menuntun kita untuk menemukan sensitiviitas (kepekaan), tidak hanya terhadap karya sastra melainkan berimbas kepada semua fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan. Realitas fiksional yang tercipta di dalam karya sastra menjadikan wawasan pengalaman dan memperkaya batin dalam diri kita.
Karya sastra lebih merangsang seseorang untuk bereksplorasi dengan imajinasinya. Ketika membaca karya sastra kita akan mampu melihat dengan jernih setiap karakter tokoh-tokohnya, tempatnya, suasananya, dan sebagainya sesuai dengan imajinasi kita sendiri. Maka kita akan melihat secara imajiner seperti apakah pemuda Hanafi (“Salah Asuhan”-Abdul Muis), Tuti-Maria (“Layar Terkembang”-STA), Siti Nurbaya (Siti Nurbaya”-Marah Rusli), Zainudin (“Tenggelamnya Kapal Van Der Vijk”-Hamka”), dsb. Bahkan dengan membaca sastra kita juga akan dapat melihat gambaran seperti apa kehidupan ekonomi, sosial, budaya, serta konstelasi politik yang menjadi setting kehidupan masyarakat pada cerita tersebut.
Maka, karya sastra ternyata tidak hanya sekadar pelipur lara bagi pembacanya, melainkan dapat menambah wawasan pengetahuan pada bidang yang lain. Kita akan mengetahui bahwa pada suatu masa orang dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, walau pun pada akhirnya tidak mampu kembali lagi ke kampong halamannya (“Di Bawah Lindungan Ka’bah”-Hamka), bahwa pada suatu masa orang dapat melanjutkan kuliah ke Perancis meski berasal dari daerah terbelakang dan kesulitan ekonomi (“Laskar Pelangi”-Andrea Hirata), bahwa pada suatu masa seseorang yang baru keluar dari penjara sebagai korban politik akan merasa menjadi momok dan aib bagi masyarakatnya (“Kubah”-Ahmad Tohari).
Dalam pengajaran apresiasi sastra yang terpenting adalah memberikan pengalaman batin kepada para peserta didik. Biarlah mereka merasa memperoleh sesuatu, Setidaknya kenikmatan dan kepuasan batin. Maka langkah apresiasi harus diawali dengan membawa mereka kepada pengenalan sastra, menciptakan suasana kondusif agar mereka menggemarinya, lalu menikmatinya, merespon bahkan bila memungkinkan pada akhirnya sampai pada tataran mampu melakukan proses kreatif.(***)
*Penulis Guru SDN Setiadarma 01, Kecamatan Tambun Selatan







Pencerahan yang luar biasa, selama ini yang sudah hampir tenggelam tentang karya sastra.
Kini muncul kepermukaan seperti tunas yang tumbuh di musim hujan.
Suks terus sang motivator….
Di tunggu artikel berikut nya.
Di taman terlihat kotor
Pak Karman sang motivator
Semangat…..