Oleh: Sunarto, M. Pd (*)
PENDAHULUAN
Suatu kondisi dimana terasa adanya gejala sikap dan perilaku guru yang mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya, seperti sering datang terlambat, mengajar tidak terencana atau malas mengerjakan tugas administrasi secara rutin, dan sering mengeluh. Hal ini menandakan bahwa salah satu penyebabnya adalah kondisi iklim kerja yang kurang kondusif di sekolah. Kondisi ini tentunya tidak bisa dibiarkan dan akan berdampak negatif terhadap proses belajar mengajar yang berkualitas. Kepala sekolah selaku manajer disyaratkan mampu mengupayakan kondisi iklim kerja yang kondusif di sekolah.
Dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Bahwa kepala sekolah pada dimensi kompetensi manajerial dituntut mampu menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik. [1] Seiring pula dengan telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, pada pasal 54 ayat (1) berbunyi “Beban kerja kepala satuan pendidikan sepenuhnya untuk melaksanakan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan”. [2] Sehingga memberikan keleluasaan bagi kepala sekolah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manajer secara lebih konsentrasi.
Berdasarkan pengalaman penulis, pada saat dilaksanakan supervisi akademik terhadap guru. Hanya sebagian kecil saja guru mengerjakan tugas administrasi secara terencana dan rutin. Sebagian besar guru mengerjakan tugas yang diberikan dengan perasaan terpaksa untuk sekedar menggugurkan kewajiban tugas dan tanggung jawabnya. Hal ini menyebabkan tugas yang diberikan hasilnya kurang memuaskan sehingga terkesan asal jadi. Dengan kondisi seperti ini, kepala sekolah perlu mencari upaya bagaimana menciptakan iklim kerja yang kondusif.
PEMBAHASAN
Definisi Iklim Kerja
Menurut beberapa ahli berpendapat bahwa yang dimaksud dengan iklim kerja adalah sebagai berikut:
Miller (1997:128)
Pengertian iklim kerja menurut Miller adalah nilai semangat yang mendasar dalam cara mengelola hubungan dan mengorganisasikannya.
Robbins(2007:716)
Pengertian iklim kerja menurut Robbins adalah istilah yang dipakai untuk memuat rangkaian variable perilaku yang mengacu pada nilai, kepercayaan dan prinsip pokok yang berperan sebagai suatu dasar bagi sistem manajemen organisasi.
Davis dan Newstorsm (2001:25)
Pengertian iklim kerja menurut Davis dan Newstorm adalah kepribadian sebuah organisasi yang membedakan dengan organisasi lainnya yang mengarah pada persepsi masing-masing anggota dalam memandang organisasi.[3]
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dalam konteks pendidikan dapat disimpulkan bahwa iklim kerja adalah suatu kondisi semangat bekerja di lingkungan sekolah. Dimana secara lingkungan psikologis terjadinya komunikasi dan interaksi yang harmonis antar warga sekolah secara keseluruhan baik internal maupun eksternal dalam rangka membentuk karakter peserta didik dan meningkatkan prestasi akademiknya. Iklim kerja secara lingkungan fisik menggambarkan suasana lingkungan sarana-prasarana yang representatif, bersih, tertib, dan indah yang menjadi budaya pembeda dengan sekolah lainnya.
Iklim Kerja Psikologis
Iklim kerja secara lingkungan psikologis dapat dikaji dari segi ciri-ciri, jenis-jenis, dan dimensinya, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Ciri-ciri Iklim Kerja Kondusif
Iklim kerja yang ada di sekolah adalah merupakan factor utama yang menentukan keadaan kualitas pembelajaran yang dihadapi oleh peserta didik di sekolah. Ciri-ciri Iklim Kerja yang Kondusif. Supardi (2014: 123) menyebutkan ciri-ciri iklim kerja yang kondusif adalah:
- Sekolah mempunyai seperangkat nilai etika-moralitas dan etos yang dianggap penting;
- Kepala sekolah, guru dan peserta didik menunjukkan kepedulian dan loyalitas terhadap tujuan sekolah;
- Sekolah menjanjikan lingkungan dan suasana yang menyenangkan, dan menantang bagi guru serta peserta didik; adanya iklim saling menghargai dan saling mempercayai sesama, diantara guru dan peserta didik;
- Adanya komitmen yang kuat untuk belajar sungguh-sungguh;
- Kepala sekolah, guru, dan peserta didik mempunyai semangat yang tinggi untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi;
- Adanya moral semangat juang yang tinggi dikalangan peserta didik;
- Adanya disiplin yang baik di sekolah;
- Adanya tingkat kemangkiran yang rendah dikalangan guru dan peserta didik; dan
- Adanya tingkat persatuan conhesiveness dan semangat yang tinggi di kalangan guru.
Jenis-jenis Iklim Kerja
Selanjutnya jenis-jenis iklim kerja yang dapat diketahui sebaga upaya menciptakan iklim kerja yang kondusif seperti ditulis oleh Halpin dan Croft 1990 dalam Supardi (20014: 126) menyatakan bahwa ada enam jenis iklim kerja yaitu, a. iklim kerja terbuka; b. iklim autonomus; c. iklim terkawal; d. iklim biasa; e. iklim paternal; dan f. iklim tertutup.
Adapun penjelasannya sebagai berikut:
- Iklim Terbuka,
Iklim ini merujuk kepada keadaan dimana semangat kerja kebersamaan berada ditahap yang tinggi, dan ketidakpedulian rendah. Dalam iklim terbuka ini, kepala sekolah senantiasa memberi bantuan, memberi arahan dan menggerakkan kerja melalui teladan yang baik. Guru-guru bekerja secara bersungguh-sungguh dan berkelompok. Iklim terbuka menggambarkan hubungan yang harmonis dan saling menghormati antara guru, kepala sekolah, staf karyawan dan peserta didik.
- Iklim Autonomus,
Iklim autonomus adalah keadaan dimana dirasakan suasana penuh kebebasan bekerja dan kepuasan sosial secara menyeluruh dengan semangat kebersamaan, kemesraan, kesungguhan, dan kesendirian berada di tahap yang tinggi, tetapi penekanan pada daya pengeluaran, sifat kepedulian, halangan serta ketidakpedulian dirasakan kurang.
- Iklim Terkawal,
Iklim ini merujuk kepada suasana yang dirasakan tidak terlihat semangat untuk bekerja keras dan pergaulan sosialnya kurang sekali. Iklim ini mempunyai ciri-ciri yang menekankan data pengeluaran, kesendirian, halangan dan kebersamaan adalah tinggi sementara kesungguhan berada ditahap yang sederhana dan sifat kepedulian, ketidakpedulian dan kemesraan adalah rendah.
- Iklim biasa, pada iklim ini pergaulan sosial antara anggota-anggotanya menyenangkan dan terlihat kealpaan dalam bekerja. Keadaan ini menggambarkan ciri-ciri seperti kepedulian, ketidakpedulian dan kemesraan masing-masing berada di tahap yang tinggi. Sementara kesungguhan dan kebersamaan ditahap sederhana, tetapi tidak ada penekanan kepada daya pengeluaran, dan tidak terlihat juga kesendirian dan halangan.
- Iklim paternal,
Iklim paternal disifatkan mempunyai kepemimpinan tidak efektif dan tugas tidak membebankan. Ciri-ciri seperti penekanan kepada daya pengeluaran, ketidakpedulian dan sifat bertimbang rasa adalah tinggi, kesendirian, halangan, kemesraan dan kebersamaan berada ditahap yang rendah, sementara kesungguhan adalah sederhana.
- Iklim Tertutup, iklim ini merupakan kebalikan dari iklim terbuka, dimana tidak ada rasa kepedulian, kesungguhan dan semangat kebersamaan dikalangan anggota. Hubungan antara kepala sekolah dan guru-guru formal. Kepala sekolah menekankan kerja rutin, supervisi yang ketat dan kurangnya komunikasi dua arah. Dalam iklim tertutup ini, suasana kerjanya tidak sempurna dan kepuasan kerja dikalangan guru-gurunya rendah.[4]
Dimensi Iklim Kerja
Di samping jenis-jenis iklim kerja di atas, ada pula yang disebut dengan dimensi iklim kerja. Menurut Steve Kelneer, menyatakan terdapat enam dimensi iklim kerja antara lain:
Flexibility Conformity
Fleksibilitas dan comformity merupakan kondisi organisasi yang untuk memberikan keleluasaan berperilaku untuk karyawan dan juga menjalankan penyesuaian diri kepada tugas yang diberikan. Hal itu berhubungan dengan aturan yang ditetapkan organisasi, kebijakan dan prosedur yang ada. Penerimaan kepada ide baru adalah nilai pendukung di dalam pengembangan iklim organisai yang kondusif demi tercapainya tujuan organisasi.
Responsibility
Hal ini berhubungan dengan perasaan karyawan tentang jalannya tugas organisasi yang diemban dengan rasa tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai, karena mereka terlibat di dalam proses yang sedang berjalan.
Standarts
Hal ini berhubungan dengan perasaan karyawan tentang keadaan organisasi yang mana manajemen memberikan perhatian kepada pelaksanaan tugas dengan baik, tujuan yang sudah ditetapkan dan juga toleransi kepada kesalahan atau hal yang kurang sesuai atau kurang baik.
Reward
Reward berhubungan dengan perasaan karyawan tentang penghargaan dan pengakuan terhadap pekerjaan yang baik.
Clarity
Clarity berhubungan dengan perasaan karyawan bahwa mereka mengetahui apa yang diinginkan dari mereka berhubungan dengan pekerjaan, peranan dan tujuan organisasi.
Tema Commitmen
Tema komitmen berhubungan dengan perasaan karyawan tentang perasaan bangga mereka mempunyai organisasi dan kesediaan untuk berupaya lebih ketika dibutuhkan.
Kemudian menurut Piness, Iklim kerja suatu organisasi dapat diukur dengan empat dimensi, antara lain:
Dimensi Psikologi
Dimensi ini mencakup varibale seperti beban kerja, kurang otonomi, kurang pemenuhan sendiri (self-fullment clershif) dan kurang inovasi.
Dimensi Struktural
Dimensi ini mencakup variabel seperti fisik, bunyi dan tingkat keserasian antara kebutuhan kerja dan struktur fisik.
Dimensi Sosial
Dimensi ini mencakup aspek interaksi dengan klien (dari segi kuantitas dan ciri-ciri permasalahannya) rekan satu kerjaan (tingkat dukungan dan kerja sama) dan penyelia (dukungan dan imbalan)
Dimensi Birokratik
Dimensi ini mencakup Undang-Undang dan peraturan-peraturan konflik peranan dan kekaburan peranan. [5]
Dapat disimpulkan bahwa iklim kerja yang kondusif di sekolah dapat diukur melalui dimensi rasa aman dan nyaman, kegiatan belajar mengajar yang berkualitas, hubungan dengan orang lain yang harmonis, dan lingkungan kerja yang kondusif.
Iklim Kerja Fisik
Upaya menciptakan iklim kerja yang kondusif secara lingkungan fisik dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- Perawatan Fasilitas Fisik
Salah satu ciri organisasi yang efektif adalah terciptanya budaya dan iklim organisasi yang menyenangkan sehingga pegawai/karyawan merasa aman, nyaman, dan tertib di dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini ditandai dengan fasilitas-fasilitas fisik organsiasi yang terawat dengan baik. Penampilan fisik organisasi yang selalu bersih, rapi, indah dan nyaman.
- Penataan Ruang Kerja
Kondisi kerja yang menyenangkan perlu diciptakan sehingga tercipta suasana yang mendorong pegawai untuk melakukan tugasnya sebaik mungkin.. Penggunaan musik instrumentalia yang lembut dapat lebih menciptakan suasana menyenangkan dan memberi efek penenteraman emosi.
- Penggunaan Poster Afirmasi
Poster-poster afirmasi, yaitu poster yang berisi pesan-pesan positif digunakan dan dipajang di berbagai tempat strategis yang mudah dan dapat selalu dilihat oleh pegawai. Poster afirmasi ini dapat digunakan untuk mensosialisasikan dan menanamkan pesan-pesan spiritual kepada seluruh pegawai.
Pesan-pesan spiritual untuk poster afirmasi dapat berupa petikan ayat Al-Quran, hadist, pesan pujangga, atau puisi-puisi spiritual. Yang perlu diperhatikan, adalah pengadaan dan penempatan poster afirmasi ini jangan sampai terkesan berlebihan atau menjadi pesan sloganis belaka.
- Penataan Lingkungan Sosial Organisasi/Lembaga
Organisasi yang efektif perlu memperhatikan keamanan sekitar. Organisasi terbebas dari gangguan keamanan baik dari dalam maupun dari luar Organisasi. Untuk menjamin keamanan organisasi maka harus didukung adanya tata tertib organisasi yang menjadi acuan dari semua Anggota organisasi/pegawai. Tata tertib yang ada dapat terlaksana dengan baik, apabila didukung oleh seluruh pihak manajemen. Karena itu pimpinan, pegawai, dan staf harus menjadi model dan teladan untuk penegakan tata tertib dan disiplin.
Di antara bentuk penataan lingkungan kerja organisasi ialah pengaturan jadwal acara dan aktivitas organisasi. Semua aktivitas di organisasi harus dijadwalkan secara baik, agar kegiatan tersebut tidak terganggu. Sehubungan dengan itu, maka seluruh kegiatan yang bersifat regular dan yang bersifat insidental perlu diidentifikasi.[6]
KESIMPULAN
Upaya menciptakan iklim kerja yang kondusif di sekolah merupakan salah satu faktor yang penting dalam mendorong semangat kerja guru yang tinggi, karena akan menentukan keadaan kualitas pembelajaran yang dihadapi oleh peserta didik di sekolah
Iklim kerja yang kondusif di sekolah bukan hanya yang bersifat lingkungan psikologis saja, akan tetapi juga lingkungan fisik. Lingkungan psikologis misalnya terjadinya komunikasi dan interaksi yang harmonis antar warga sekolah secara keseluruhan baik internal maupun eksternal dalam rangka membentuk karakter peserta didik dan meningkatkan prestasi akademiknya. Sedangkan lingkungan fisik misalnya sarana-prasarana yang representatif, bersih. tertib, dan indah yang menjadi budaya pembeda dengan sekolah lainnya.
Kepala sekolah sesuai yang diamanatkan dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, dituntut memiliki kemampuan dalam upaya menciptakan iklim kerja yang kondusif di sekolah.
Seiring dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, memberikan keleluasaan bagi kepala sekolah sebagai manajer dalam upaya lebih konsentrasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
RUJUKAN:
Permendiknas No. 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
https://www.seputarpengetahuan.co.id, diakses 11 Pebruari 2019.
https://text-id.123dok.com, diakses 11 Pebruari 2019.
https://www.kompasiana.com, 11 Pebruari 2019.
(*) Penulis adalah Kepala SDN Mangunjaya 07, Kecamatan Tambun Selatan
[1] Permendiknas No. 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah
[2] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. H. 5.
[3] https://www.seputarpengetahuan.co.id
[4] https://text-id.123dok.com
[5] https://www.seputarpengetahuan.co.id. Op. cit







