CIKARANG– Enam Tahun sudah sejak beroperasi program Jaminan Kesehatan – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) oleh Pemerintah, Program JKN-KIS sudah banyak menjangkau berbagai kalangan masyarakat mulai dari yang muda hingga yang tua sudah memiliki kartu JKN-KIS sebagai jaminan kesehatan diri dan keluarganya.
Seperti salah satu peserta Program JKN-KIS, Gilbert Agung Kharisma atau biasa dipanggil Gilbert (20) Mahasiswa Universitas Bhayangkara yang merasakan begitu penting peran Program JKN-KIS dalam menjamin kesehatan masyrakatnya tanpa perlakuan diskriminasi.
“Program JKN-KIS sangat membantu bagi masyarakat terutama yang memiliki keterbatasan ekonomi. Kalau dulu kita tahu hanya beberapa kalangan masyarakat mampu saja yang bisa menggunakan jaminan kesehatan, namun dengan adanya regulasi mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) masyarakat kelas bawah pun dapat merasakan memiliki jaminan kesehatan ini, karena kan bagi masyarakat yang tidak daftar terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang ditanggung oleh Pemerintah Pusat atau Daerah,” ujar Gilbert.
Sebagai Mahasiswa jurusan hukum, ia sangat mendukung dengan adanya undang-undang nomor 40 tahun 2004 yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Menurutnya dengan adanya regulasi tersebut masyarakat dari berbagai kalangan dapat memiliki jaminan kesehatan dengan biaya yang terjangkau sehingga dapat meningkatan kualitas hidup mereka.
“Tidak hanya sekedar regulasi, peraturan yang dikeluarkan pemerintah tersebut dapat menjamin kesehatan masyarakatnya. Kita bisa memilih kelas I,II, atau III dengan iuran yang sanggup untuk kita bayarkan perbulannya. Menurut saya iuran yang ditawarkan juga tidak teralu besar dibandingkan manfaat yang diterima saat sakit seperti yang saya rasakan ketika harus melakukan pengobatan untuk menyembuhkan penyakit lambung saya,” ujarnya.
Ketika ditemui oleh tim Jamkesnews, ia menceritakan pengalamannya sebagai salah satu pengguna manfaat dari kartu JKN-KIS. Selama melakukan pengobatan ia tidak pernah merasakan kendala apapun seperti yang pernah ia dengar dari orang-orang sekelilinya.
“Dulu saya juga pernah menggunakan Kartu JKN-KIS ketika saya tifus. Selama saya kuliah, saya juga sambil bekerja. Waktu itu saya dirawat di Rumah Sakit Tiara Babelan. Tidak ada kendala sama sekali dalam melakukan pengobatan mulai dari administrasi hingga mendapatkan perawatan, semuanya berjalan dengan lancar saja,” jar salah satu peserta JKN-KIS itu.
Ia menuturkan bahkan baru-baru ini ia menggunakan kartu JKN-KIS untuk pengobatan penyakit lambungnya yang kambuh akibat pola makannya yang kurang ia jaga. Menurutnya tidak adanya perlakuan diskriminasi antara peserta JKN-KIS dengan peserta lainnya.
“Baru-baru ini saya menggunakan kartu JKN-KIS untuk pengobatan lambung saya, awalnya karena kecapean trus telat makan juga. Pola makan yang kurang teratur. Banyak konsumsi makanan sembarangan akhirnya saya jatuh sakit. Baru-baru ini selama saya melakukan pengobatan juga tidak merasakan kendala apapun, perawat dan dokternya tidak membeda-bedakan perlakuan,” ujar pria yang tinggal di Babelan, Kabupaten Bekasi.
Di akhir pertemuan ia berpesan kepada seluruh masyarakat untuk dapat bergabung menjadi peserta JKN-KIS. Slogan Dengan Gotong Royong Semua Tertolong-pun dirasakan slogan yang pas dapat memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk dapat saling membantu melalui iuran JKN-KIS.
“Pesan untuk masyarakat seharusnya bisa menjaga kesehatan, pola makannya juga diatur jangan suka makan sembarangan. Untuk meyarakat yang belum tergabung Program JKN-KIS sebaiknya segera mendaftarkan diri, karena manfaat yang luar biasa buat diri kita, keluarga dan masyarakat tentunya. Slogan yang diterapkan mendorong kita untuk selalu bergotong royong membantu sesama dalam meingkatkan Indonesia yang lebih baik dari segi kesehatan,” tutupnya. (HK/rr/amh)






