Perempuan Tani, Si Perkasa Yang Luar Biasa

OPINIDIBACA : 1.656 KALI

Oleh : Nenden Hernika (*)

Jika kita mau menengok bagaimana kehidupan sebuah keluarga petani di perkampungan, kita bisa melihat bahwa yang pertama bangun adalah ibu tani. Di pagi yang masih buta, bahkan suara azan subuh belum terdengar, ibu tani sudah ke dapur menyalakan tungku dan mengerjakan banyak hal. Meski harus keluar rumah untuk mengambil kayu bakar yang menumpuk di pinggir rumah, Ibu tani tetap melakukannya tanpa rasa takut sedikit pun.

Kemudian ketika suami bangun, dengan sigap disediakannya kopi dan makanan ringan hasil olahannya.Dia sendiri melanjutkan pekerjaan yang belum selesai dari mulai menanak nasi, memasak, menyapu, mencuci piring dan pakaian, bahkan memberi makan ternak. Semua dikerjakan sendiri, tanpa bantuan pembantu (Kecuali jika dia punya anak perempuan, maka anak perempuannya yang membantu alakadarnya)

Ketika mentari mulai sepenggalah naik, ibu tani akan pergi ke sawah menyusul suami, mengantarkan nasi dan lauk pauk hasil masakan tadi, lalu mereka makan bersama di sawah. Selesai makan akan banyak yang dilakukan di sawah dari mulai membantu menyiangi rumput, mencari keong, atau mencari sayuran dan lalapan untuk makan sore dan esok hari. Jika waktu panen tiba, ibu tani akan turut serta membantu memotong padi baik di sawah sendiri maupun di sawah orang lain. Biasanya ibu tani akan pulang bersama dengan bapak tani dan setibanya di rumah, suami langsung mandi dan istirahat, sedangkan ibu tani akan langsung kembali ke dapur menyiapkan makan sore setelah sebelumnya menyiapkan secangkir kopi untuk suami tercinta. Tak lupa menjelang magrib ibu tani jugalah yang menggiring ayam-ayamnya untuk masuk ke kandang, agar tak terganggu oleh binatang liar.

Demikianlah siklus kehidupan para ibu tani di perkampungan. Dari mulai bangun hingga menjelang tidur, waktu dan tenaganya selalu dimanfaatkan tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Waktu santai dan istirahat bagi ibu tani hanyalah seusai magrib, biasanya digunakan untuk menonton televisi atau bercengkrama dengan anak-anak. Kadang jika ada tetangga yang datang, ia juga akan kembali menyiapkan makanan ringan dan kopi, untuk dimakan bersama. Jika di sawah sedang tidak ada pekerjaan, waktu santai buat ibu tani biasanya digunakan untuk menyiangi rumput di halaman rumah atau mengikuti pengajian rutin di mesjid terdekat.

Melihat siklus kehidupan ibu tani tersebut, kita bisa melihat betapa besar peran perempuan di sebuah keluarga petani. Dalam hal menyimpan uang hasil pertanian, ibu tani sangat hemat dan pintar menabung. Dibelinya emas ke pasar supaya uang tidak habis dipakai atau hilang. Emas tersebut akan terus bertambah karena setiap memiliki uang hasil panen atau hasil suami bekerja akanditukar dengan emas yang gramnya lebih berat. Demikian berlangsung terus menerus dari tahun ke tahun hingga jika sudah lumayan besar, akan dibelikan ke binatang ternak seperti kambing atau sapi, bahkan ada yang kemudian membeli tanah/sawah.Ibu tani biasanya tidak berani menjajankan uang sembarangan, kecuali untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Kondisi tersebut masih terus berlangsung meski kini jaman sudah modern. Perempuan tani tetaplah ibu yang ikhlas mengabdi pada suami dan anak-anak tanpa pernah mengharap balas. Bagi mereka, rutinitas tersebut adalah kehidupan yang tentram dan membahagiakan.

Lalu bagaimana dengan emansipasi yang sudah lama didengungkan? Apakah rutinitas ibu tani tersebut melanggar haknya sebagai perempuan?

Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa semua orang mempunyai kedudukan yang sama di muka hukum. Demikian juga dalam pasal 31 ayat [1] Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama di masyarakat. Selanjutnya, pasal 35 ayat [1] Undang-Undang Perkawinan menyebutkan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kedudukan perempuan sama dengan kedudukan laki-laki. Itulah sebabnya pemerintah selalu mengedepankan kesetaraan gender dalam segala hal, baik itu peranan perempuan di masyarakat maupun di pemerintahan.Islam juga memandang laki-laki dan perempuan dalam posisi yang sama, tanpa ada perbedaan. Masing-masing adalah penciptaan Allah yang dibebani tanggung jawab melaksakan ibadah kepadaNya, menunaikan perintah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Melihat betapa tentramnya kehidupan rumah tangga petani, pola pikir perempuan seperti ibu tani yang ikhlas, seyogyanya tetap dipertahankan dan bahkan dijadikan teladan oleh kaum ibu lainnya. Ikhlas bukan berarti terbelakang. Ikhlas adalah suasana hati yang bersih, tulus, rela, rido melakukan sesuatu tanpa pamrih, untuk kemaslahatan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Seorang ibu yang ikhlas membantu suami sejak dini hari hingga malam, benar-benar ibu idaman yang perkasa dan luar biasa.

Sayangnya, ditengah keperkasaan tersebut, masih banyak ibu tani yang benar-benar polos dan lugu. Keikhlasannya sering tidak dibarengi dengan ilmu yang mumpuni, sehingga tidak sedikit Ibu tani yang dicampakkan baik di keluarga maupun di masyarakat. Masih banyak yang karena merasa diri tidak bisa, Ibu tani lebih banyak menutup diri, lebih banyak mengalah dan tidak berdaya, karena umumnya mereka tidak berani mengungkapkan kehendak dan pendapatnya.Dan karena kepasrahannya tersebut, tak jarang dari mereka yang melakukan kesalahan dalam mendidik anak.

Untuk mengatasi hal tersebut, hendaknya ada tambahan ilmu pengetahuan baik agama maupun darigama agar perempuan perkasa itu memiliki rasa percaya diri yang tinggi sebagai bekal dalam mendidik anak. Perempuan tani selain perkasa dalam mengatur waktu dan keuangan keluarga juga harus pandai dan memiliki wawasan luas terutama dalam mendidik anak, jangan sampai timbul “salah asuh” yang berakibat pada rendahnya iman, kurangnya kasih sayang dan kurangnya pendidikan anak. Jika perempuan cerdas, maka anak-anak pun akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, generasi yang beriman dan bertakwa, generasi yang akan menjadi penerus bangsa.Karena pada dasarnya di senyum perempuanlah sebuah keluarga akan terasa damai dan tentram, di pangkuan perempuan anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang handal dan tangguh, di tangan perempuan akan tercipta keluarga yang sakinah mawadah dan rohmah, hingga pada akhirnya akan terbentuk sebuah masyarakat yang madani, masyarakat sejahtera yang menjunjung tinggi nilai dan normahukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu dan teknologi yang berperadaban. Insya Allah 😊

(*) Penulis adalah Kepala SDN Bojongmangu 02 Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *