Tanamkan Moral Melalui Lagu dalam Pembelajaran

ARTIKEL, OPINIDIBACA : 3.195 KALI

Oleh : Nenden Hernika (*)

Upami abdi, tos aya di kelas

Bahamna balem, teu kenging nyarios,

Panangan sidakep, dina luhur bangku,

Calikna ajeg,  mayun ka ibu guru….”

Entah siapa yang menciptakan lagu tersebut, yang jelas kami dulu waktu SD selalu menyanyikan lagu tersebut hampir setiap pagi di kelas. Begitu lagu tersebut kami nyanyikan, maka kami yang tadinya duduk berseliweran jika guru belum datang, langsung duduk dengan rapih dan sigap menghadap depan kelas, kemudian bapa/ibu guru memulai pembelajaran, dan kami pun mulai belajar.

Petikan lagu tersebut mengandung makna sebagai berikut :

Jikalau aku, sudah ada di kelas,

Mulutnya diam, tak boleh bicara,

Tangannya sedekap, diatas meja,

Duduknya sigap, menghadap bu guru…“

 

Sekarang lagu tersebut jarang kami nyanyikan, tidak pula kami wariskan ke putra putri kami di sekolah, karena lagu tersebut dianggap seolah anak tidak boleh berkreasi. Anak dibatasi ruang geraknya. Lihatlah lirik “mulutnya diam, tak boleh bicara”, itu sangat bertentangan dengan upaya peningkatan kompetensi siswa dalam aspek berbicara, dimana anak diharapkan mau mengemukakan ide, pendapat dan aspirasi baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Sedangkan lagu tersebut seolah anak harus diam, harus jadi pendengar yang baik.

Kemudian sikap duduk yang harus “sigap” menghadap bapak/ibu guru, kini sudah tidak lagi berlaku. Posisi duduk sejak adanya CBSA, kemudian sekarang di kurikulum 2013, dimana suasana anak lebih banyak membentuk kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 orang anak, tidak mengharuskan anak sigap menghadap guru. Anak diberi kebebasan untuk berkreasi di kelompoknya masing masing. Anak diharapkan mampu mencari sendiri konsep konsep yang diharapkan, sesuai dengan pendekatan saintifik seperti yang dijelaskan dalam permendikbud Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.

Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (poses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi,” dan keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji dan mencipta,” Karakteristik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut sertamemengaruhi karakteristik standar proses. Untuk memperkuat pendekatan imiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik yang menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).

Pertanyaannya sekarang, benarkah lagu yang mungkin dulu kental di mulut dan telinga anak anak di Jawa Barat tersebut tidak boleh lagi dinyanyikan oleh anak SD? Benarkah lagu tersebut mengandung makna pembatasan ruang gerak anak, pembatasan anak untuk berkreasi, pembatasan untuk tidak boleh bicara? Sepicik itukah pengarang lagu itu?

Sekali lagi, saya tidak pernah tahu siapa pengarang lagu itu. Dulu guru saya mengajari saya secara spontan, tidak menuliskannya dulu di papan tulis, apalagi menggunakan notasi dan menyebutkan nama pengarang. Kami langsung menyanyi, dan lagu itu masih saya hapal sampai sekarang. Pernah lagu tersebut saya sampaikan kembali ke anak murid saya sekitar tahun 1995, tapi ketika saya kuliah S.1 tahun 2000-an, dosen saya mengkritik lagu tersebut dengan alasan seperti yang dikemukakan di atas.

Dalam kesempatan ini, tanpa bermaksud membela pengarang lagu, saya hanya ingin menyampaikan bahwa “lagu lawas” itu sarat dengan makna. Ada pesan yang tersirat dalam lagu itu, dimana anak belajar untuk duduk rapih menghargai guru yang menyampaikan penjelasan materi, dengan cara diam mendengarkan.

Jika dikaitkan dengan pembelajaran sopan santun, maka lagu itu benar-benar mengajak siswa untuk berperilaku sopan, menghargai guru, duduk dengan sigap, disiplin dan sikap-sikap lain yang memang harus ditanamkan pada anak sejak dini. Yang paling utama, lagu tersebut mengajak anak untuk siap belajar. Kita pasti merasakan, bagaimana mungkin konsentrasi belajar akan terpusat pada pembelajaran, jika suasana kelas masih semrawut dan anak tidak siap mengikuti pelajaran.

Dalam langkah pembelajaran, kita pasti ingat ada langkah yang tertuang di kegiatan pendahuluan yaitu “Guru mengkondisikan siswa ke arah pembelajaran yang lebih baik”. Itu artinya bahwa guru mengajak siswa untuk siap belajar, siap berkonsentrasi, tidak semrawut dan tidak melakukan hal diluar materi yang diinginkan.

Dengan demikian, lagu tersebut masih bisa kita sampaikan ke anak sebagai pembuka pembelajaran supaya anak siap mengikuti pelajaran. Tentu saja bukan berarti anak dari awal mulai sampai akhir pembelajaran  harus diam dan duduk sedekap dengan manis, karena itu hanyalah pembuka untuk memulai, sementara jika pembelajaran sudah dimulai, maka anak tetap melakukan hal-hal yang memang diharapkan dalam langkah pendekatan saintifik seperti mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,  mengasosiasi dan mengkomunikasikan.

Kita juga paham bahwa mengajarkan aspek moral lewat lagu akan lebih mengena dan terkesan di hati anak, dibandingkan dengan mengajarkan lewat ceramah berupa nasehat. Lagu akan membawa kita pada suasana hati yang indah, suasana hati yang menyentuh rasa dan membangkitkan semangat. Apalagi jika ingat bahwa akhir-akhir ini dunia pendidikan selalu disorot dengan masalah degradasi moral anak, karena munculnya berbagai kekerasan yang dilakukan anak mulai dari berkelahi, tawuran, melawan guru, bahkan ada anak yang berani membunuh guru, sungguh sangat memprihatinkan.

Dengan demikian, mari kita kembangkan kembali lagu-lagu bernuansa moral, lagu-lagu yang bernafaskan aspek sikap dan terkandung nilai nilai luhur budaya kita. Sebagai contoh, kita bisa menambah lagu tersebut dengan lirik berikut :

Upami abdi, ngawitan diajar,

Abdi ningali, nulis jeung nyarita,

Terus ngagali, elmu nu mangfaat,

Bekeleun jaga, dunya jeung akherat… “

( jikalau aku, mulai belajar,

Aku amati, nulis dan bicara,

Terus menggali, ilmu yang manfaat,

Bekalku nanti, dunia dan akhirat… )

 

Dan mungkin sejuta lagu lain, yang bisa kita kembangkan sesuai konsep yang diharapkan, agar lebih mengena di hati anak, agar anak lebih peka dalam mengolah rasa dan hati, agar anak memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Kita perdengarkan dan ajarkan lagu-lagu tersebut pada anak setiap hari, sehingga terbentuk sikap moral yang baik dan budi pekerti luhur sejak dini. Sekali lagi, mari kita mulai bangkitkan kembali lagu-lagu anak itu mulai dari sekarang, agar tak punah dilekang masa dan pembelajaran yang menyenangkan dapat terlaksana.

Bekasi, 11 Februari 2019, NH

 

(*) Penulis adalah Kepala SDN Bojongmangu 02, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *