Jat Mico : Doa Untuk Sehat Itu Wajib, Berusaha Untuk Sehat Lebih Wajib

CIKARANG  – Sebagai salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), Jat Mico menceritakan pengalaman berharganya menggunakan JKN-KIS saat istri tercintanya harus mendapatkan pengobatan lantaran luka bakar yang di alami beberapa tahun yang lalu. Saat itu, istrinya mengalami kecelakaan saat dirinya sedang memasak.

“Saat itu istri saya mengalami luka bakar akibat ledakan gas LPG atas kecerobohan saya yang mana mengalami luka bakar lebih dari 60%. Saat itu masuk UGD langsung ada tindakan tanpa tanya saya bayar sendiri atau menggunakan kartu JKN-KIS. Setelah ditangani, barulah saya ke loket BPJS dan dinyatakan menunggak dua bulan dan harus menyelesaikan denda dikantor BPJS Kesehatan Cabang Cikarang,” ujar Jat Mico, Kamis (04/06/2020).

Dirinya bersyukur, karena sang istri telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS. Pelayanan yang didapat oleh istrinya di rumah sakit sangat baik. Bukan hanya itu, seluruh biaya pelayanan dan obat-obatan oun ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan, sehingga dirinya sudah tidak perlu mengeluarkan biaya.

“Saat perawatan menggunakan obat obatan luka yang cukup mahal karena saya sedikit banyak mengenal obat-obatanya. Sampai hari ke sepuluh mulai dari perawat hingga dokter semuanya ramah-ramah dan profesional, Alhamdulillah sampai saat ini 100% normal, namun masih dalam pemulihan,” ujar salah satu peserta segmentasi PBPU JKN-KIS.

Tidak hanya istri tercintanya, Jat pun punya pengalaman sendiri menggunakan Program JKN-KIS dalam pengobatan penyakit ginjalnya. Di tahun yang sama Jat harus mendapatkan pengobatan lainnya lantaran kecelakaan yang di alaminya.

“Saya juga punya pengalaman yang saya alami sendiri. Setahun yang lalu gantian saya sendiri kena batu ginjal yang rasa sakitnya susah diceritakan harus rawat jalan. Lalu, saya juga pernah mengalami jatuh kepleset dari tangga dan berfikir kurang tepat jika saya bawa ke tukang urut beberapa tempat dan saya hitung habis banyak juga. Baru kepikiran kenapa saya tidak ke klinik BPJS, dan ternyata dirujuk ke bagian syaraf akhirnya harus fisiotherapi sudah sekitar 27x sebenarnya harus lanjut, tapi saya hentikan karena saya takut untuk keluar masuk rumah sakit di situasi pandemi ini,” ujarnya.

Dalam pengobtannya Jat merasakan apa yang diberikan rumah sakit terhadap pengobatannya bukanlah sekedar pengobatan biasa. ia pun juga sering mendapatakan berbagai informasi dan cerita dari pasien lain mengenai besaran pengobatannya.

“Obat syarafnya juga bukan sembarangan,dan fisioterapi saya dapat info sekali tindakan 250 ribu kalau bayar sendiri.Karena sering fisioterapi ketemulah dengan pasien lain berbagi cerita ada pasien sudah tiga tahun rutin seminggu 2x fisioterapi kena stroke. Kebayang itu orang kalau gak punya BPJS biayanya,” ujarnya.

Di akhir pertemuan, ia mengucapkan terima kasih kepada peserta lain yang dengan ihklas ikut gotong royong mendukung BPJS Kesehatan meskipun tidak sakit. Baginya kenaikan iuran tidaklah sebanding jika dibandingkan begitu besarmanfaat yang ia rasakan.

“Karena saya peserta kelas tiga, jikapun ada kenaikan sedikit insyaallah tetap ikut Program JKN-KIS karena manfaatnya terasa bagi masyarakat kelas bawah seperti saya, kenaikan menjadi beban itu pasti, tapi jika saya hitung jumlah yang saya pakai dibandingkan iuran sata tidak sebanding,” tutupnya (HK/rr/amh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *