Budayakan Literasi Digital untuk Pendidikan Indonesia Lebih Maju

ARTIKELDIBACA : 571 KALI
“Tidak ada istilah guru gagap teknologi (gaptek), yang ada adalah guru yang mampu dan selalu berusaha mengikuti perkembangan jaman”

 

OLEH; NENENG HARTI SUSWATI (*)

MENURUT KH. Dewantara, guru adalah contoh terbaik dalam pembelajaran yang ada di lingkungannya. Sesuai dengan semboyannya Ing Ngarso Sing Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Pembelajaran sepanjang hayat identik dengan keseharian kegiatan kehidupan guru dalam melaksanakan pengabdiannya di dalam dunia pendidikan. Kemajuan digitaliasai pada saat ini merupakan tantangan bagi guru.

Walaupun demikian kehadiran guru tetap tidak dapat tergantikan. Oleh karena itu guru hendaknya selalu melakukan adaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak ada istilah guru gagap teknologi (gaptek), yang ada adalah guru yang mampu dan selalu berusaha mengikuti perkembangan jaman. Salah satu upaya guru adalah dengan selalu meningkatkan kompetensinya.

Kompetensi yang dibangun berdasarkan kesadaran pribadi melalui kegiatan pengenalan dan memahami diri sendiri dengan baik dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergabung dalam komunitas profesi seperti PGRI dan bergabung dalam komunitas APKS-PGRI (Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis-Persatuan Guru Republik Indonesia) mata pelajaran untuk guru SMP/SMA/SMK atau guru kelas untuk guru SD. Merupakan wadah tepat untuk berbagi ilmu pengetahuan dalam rangka peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru.

Platform Merdeka Mengajar (PMM) adalah salah satu media belajar yang dapat digunakan oleh guru sebagai sarana belajar mandiri. PMM merupakan media berisi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kurikulum merdeka yang sedang marak dibicarakan sekarang ini. Pembiasaan Literasi Digital yang dapat dilakukan dimana saja melalui media handphone. Mengembangkan potensi melalui Literasi Digital PMM, guru dapat belajar:

  1. Belajar memahami tentang pelatihan implementasi kurikulum merdeka,
  2. Pengembangan Kegiatan Belajar Mengajar, berupa asesmen murid dan perangkat ajar,
  3. Pengembangan diri berupa pelatihan mandiri dan komunitas,
  4. Mencari dan Berbagi Inspirasi berupa video inspirasi dan bukti karya,
  5. Kumpulan Konten Unggulan.

Melalui pembiasaan literasi digital PMM guru dapat meningkatkan kompetensi beradaptasi dengan digital. Selain kegiatan membaca guru juga dapat melakukan upload hasil karya dalam aksi nyata. Kegiatan aksi nyata yang telah dilakukan guru, diberikan umpan balik oleh teman sejawat.

Selanjutnya aksi nyata tersebut divalidasi oleh kementerian untuk mendapatkan sertifikat pelatihan bernilai sebanyak 32 jam dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Untuk setiap modul yang telah dikerjakan akan diberikan sertifikat bernilai 32 jam.

Sertifikat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan profesi dalam kegiatan kenaikan pangkat guru bagi ASN atau PPPK. Melalui pembiasaan literasi digital diharapkan guru dapat menjadi contoh suri tauladan kepadamasyarakat sekitar terutama peserta didik.

Melalui Litersi digital ilmu pengetahuan dalam genggaman. Belajar dapat dilakukan dimana saja. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?. Kalau bukan kita, siapa lagi?. Bapak ibu guru HEBAT, mari budayakan Literasi Digital untuk pendidikan Indonesia lebih maju.

(*) Kepala Sekolah Penggerak SMPN 2 Babelan dan Anggota Dewan Eksekutif APKS-PGRI Kabupaten Bekasi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *