SANTRI DAN KEGENITAN POLITIK GEN-Z

ARTIKELDIBACA : 16 KALI

Oleh : Abdul Majid

Kalau politik Orde Lama itu berapi-api, Orde Baru itu patuh, dan Milenial itu sinis, maka politik Gen-Z itu genit.

Genit dalam artian harfiah; suka tebar pesona, gampang tertarik, cepat bosan, butuh perhatian balik, dan menjadikan politik sebagai ajang validasi, bukan pengabdian dan di tengah kegenitan itulah, santri hari ini sedang diuji.

1. Politik Gen-Z: Dari Ideologi ke Estetika

Gen-Z tidak memilih partai karena ideologinya. Dia memilih karena estetikanya.

Data KPU 2024 menunjukkan lebih dari 55% pemilih adalah Milenial dan Gen-Z. Mereka tidak membaca visi-misi 50 halaman. Mereka menilai dari limabelas detik TikTok.

Ciri politik Gen-Z:

*Pertama, Politik Parasosial.*
Mereka tidak mencari pemimpin, mereka mencari _bestie. Calon presiden harus bisa diajak bercanda di live TikTok, bisa paham meme “rizz”, bisa diajak ngobrol tanpa jaim. Kesetiaan bukan pada gagasan, tapi pada kedekatan emosional.

*Kedua, Isu bukan Aliran.*
Santri dulu ditanya: NU atau Muhammadiyah? Kanan atau kiri? Gen-Z ditanya: pro lingkungan gak? pro kesehatan mental gak? pro Palestina gak? Mereka cair. Hari ini bisa membela santri, besok bisa menghujat pesantren karena satu kasus viral.

*Ketiga, Performative Activism.*
Politik harus terlihat. Nge-share, nge-story, bikin thread. Kalau tidak terlihat di media sosial, dianggap tidak ada. Ini sisi baiknya: cepat memviralkan ketidakadilan. Sisi buruknya: gampang lelah, gampang lupa dan cuek.

Inilah yang saya sebut kegenitan. Politik yang centil, lincah, tapi kurang kesetiaan. Siapa paling siap masuk pada ruang-ruang itu..potensi peluangnya bagus.

2. Santri di Tengah Pasar Itu: Antara Menjadi Subjek dan Objek

Selama ini santri itu dianggap sebagai _voter_ yang patuh. Kalau Kiai bilang A, santri ikut A. Pola itu masih hidup di sebagian desa, tetapi hampir kebanyakan klo boleh dibilang total tidak berlaku di kalangan santri Gen-Z.

Santri Gen-Z hari ini ada di dua dunia yang bertabrakan:

Di pondok dia diajari _sami’na wa atha’na_, adab, tawadhu’, ngaji kitab kuning yang butuh dua jam untuk satu halaman.
Di dunia maya alias Gadget-nya dia melihat dunia yang serba cepat, serba mengkritik, serba membantah dan serba transfarant.

Akibatnya lahir 3 tipe santri Gen-Z di politik:

*1. Santri Estetik:* Sarungnya masih dipakai, tapi untuk konten OOTD. Ngaji tetap jalan, tapi dalil digunakan untuk membenarkan preferensi politiknya, bukan membentuknya. Jargon agama bisa jadi hanya caption.

*2. Santri Apatis Sinis:* Merasa politik itu kotor, semua sama saja. Lebih nyaman jadi penonton yang nyinyir di kolom komentar. “Ah, politik isinya orang-orang rakus dan seneng rebutan jabatan doang” – padahal dia sendiri santri.

*3. Santri Ideologis Baru:* Ini yang paling langka dan paling dibutuhkan. Mengerti balaghah, mengerti ushul fiqh, tapi juga mengerti cara kerja algoritma. Tidak anti politik Gen-Z, tapi tidak hanyut. Mereka menggunakan kegenitan itu sebagai alat, bukan tujuan.

3. Jalan Tengah: Santri Tidak Boleh Ikut Genit, Tapi Harus Mengerti Kegenitan

Kesalahan terbesar adalah jika pesantren dan kiai ikut-ikutan genit. Ikut joget-joget yang lagi viral di majelis keagamaan tanpa makna, ikut bikin gimmick kosong hanya demi suara Gen-Z. Santri akan kehilangan wibawanya.

Tugas santri bukan menjadi genit, tugas santri adalah menjadi jangkar di tengah kegaduhan yang genit itu.

Apa maknanya?

*Pertama, Terjemahkan Politik ke Bahasa Fiqh.* Gen-Z benci ceramah, tapi mereka suka cerita. Jangan bilang “pilih pemimpin adil karena wajib syar’i”. Bilang begini : “Kitab _Al-Ahkam as-Sulthaniyah_ Imam Mawardi dawuh, pemimpin yang tidak paham penderitaan rakyat itu cacat legitimasinya.” Itu lebih mengena dan masuk sasaran.

*Kedua, Lawan Performative dengan Konsistensi.* Politik Gen-Z cepat viral, cepat hilang. Santri harus hadir dengan kerja-kerja yang tidak viral tapi berakar: pendampingan petani, advokasi lingkungan, literasi digital di desa, dan itu memang tidak dapat satu juta likes, tapi bertahan 10 tahun.

*Ketiga, Jaga Adab di Tengah Budaya Cancel.* Gen-Z mudah meng-cancel orang karena satu kesalahan. Tradisi santri mengajarkan _husnudzon, tabayyun, dan adab berbeda pendapat (اختلاف امتى رحمة) dan nilai ini justru barang mahal di belantara politik hari ini.

Pada akhirnya, kegenitan politik Gen-Z tidak bisa dimaki, harus dipahami. Itu adalah bahasa zaman.

Jika santri menolak zaman, ia akan ditinggalkan. Jika santri hanyut dalam zaman, ia akan tergerus dan kehilangan jati dirinya.

Santri harus menjadi seperti yang dikatakan KH. Wahid Hasyim: _menjadi mata air yang jernih di tengah gaduhnya pasar yang bising_. Bisingnya pasar Gen-Z itu tidak perlu disumpah serapahi, tetapi cukup diberi air.
Karena pada akhirnya yang bertahan bukan yang paling genit, tapi yang paling otentik.

“Wallahu a’lam”
Kabid Poldagri, Kesbangpol Kabupaten Bekasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *