Berkat Program JKN-KIS, Cuci Darah Ade Tanpa Kedala

BEKASI TERKINI, INFO KITA, KESEHATANDIBACA : 4.325 KALI

CIKARANG  – Jauh dari keluarga yang dicintai merupakan hal yang tidak di inginkan oleh setiap orang, apalagi ditambah dengan kondisi badan yang sedang menanggung sakit. Hal inilah yang dirasakan oleh Ade Afriani (26) peserta JKN-KIS segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) Program JKN-KIS. Ia harus melakukan pengobatan cuci darah sebanyak dua kali selama sebulan lantaran penyakit gagal ginjal yang dideritanya.

Dalam kesehariannya, pria yang akrab di sapa Ade ini mengatakan karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, ia harus rela merantau dan jauh dari keluarga kecilnya di kampung halaman. Dirinya pun tidak memberitahu kepada keluarga maupun istrinya mengenai kondisi kesehatannya tersebut karena tidak ingin membuat beban di keluarganya.

“Selama merantau, saya tidak memberitahu kalau saya sakit gagal ginjal ke keluarga dan istri saya. Alasannya karena saya tidak ingin membuat khawatir denga keadaan saya di sini. Apalagi dengan keberadaan saya sendiri di Jakarta tidak ada saudara. Saya kan tinggal di mes pabrik. Kalau saya ajak istri sama anak-anak, bingung untuk tempat tinggalnya,” ujar Ade saat menceritakan kepada tim Jamkesnews .

Ade menceritakan kebiasaannya untuk selalu mengkonsumsi minuman penambah tenaga membuat dirinya harus menderita gagal ginjal. Selama ini ginjal yang bertugas untuk menyaring racun dalam tubuh harus ia dapati rusak lantaran pola hidupnya yang salah. Hal ini ia ketahui dari dokter yang memeriksanya.

“Dulu saya sering mengonsumsi minuman penambah energi untuk mengembalikan kondisi saya selepas bekerja. Mungkin karena sudah kebiasaan jadinya terus-terusan di minum. Kalau gak bisa lemes kayak ada yang kurang. Tahun 2018 akhirlah saya suka ngerasa nyeri di pinggul. Setelah diperiksa ternyata gagal ginjal. Disitulah saya ditanya ada konsumsi obat-obat yang berlebih atau tidak. Saya bilang kalau saya sering minum minuman penambah tenaga setiap harinya. Baru disitu saya tahu dan menyesal,” ujarnya.

Keikutsertaannya menjadi peserta JKN-KIS selama ini tidak dibayangkan dapat membantunya sejauh ini. Selama melakukan pemeriksaan awal hingga proses pencucian darah secara rutin dirinya tidak mengeluarkan biaya satu rupiah pun.

“Dulu sebelum saya sakit gagal ginjal tidak pernah yang namanya menggunakan JKN-KIS. Setelah saya sakit baru benar-benar terasa besar manfatnya,” tutupnya.

Di akhir pertemuannya, Ade mengucapkan rasa terima kasihya kepada Program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Dengan terdaftarnya Ade sebagai peserta JKn-KIS, rutinitas ia untuk menjalani cuci darah tidak menemukan kendala sama sekali, bahkan ia pun tidak dituntut untuk membayar seluruh proses cuci darah tersebut. (HK/rr/amh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *